Pengamat: Propaganda Ekstremisme Banyak Menyasar Kalangan Baru Hijrah
Fajar adhitya
Jum'at, 03 Juni 2022 - 19:06 WIB
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
The Lead Institute Universitas Paramadina mengimbau masyarakat waspada terhadap propaganda ekstremisme di internet. Banyak cara kelompok radikal dalam menggaet mangsanya agar mengikuti ideologi mereka.
Direktur Eksekutif The Lead Institute Universitas Paramadina, Dr. Suratno mengatakan, propaganda radikalisme dan ekstremisme banyak dilakukan lewat media internet. Salah satu modusnya dengan menyasar kalangan muslim yang baru hijrah.
Baca Juga:Kemenag Kenalkan Moderasi Beragama pada Dunia Internasional
Menggunakan pembacaan akademis, lanjut Suratno, propaganda ekstremisme banyak dilakukan menggunakan unsur-unsur dalam teori mobilisasi sumber daya. Di antara yang menjadi jalan mobilisasi propaganda adalah moral dan solidaritas.
"Sekarang di internet banyak penggiringan yang propagandis soal mana yang haram, mana yang halal," kata Suratno dalam diskusi bertajuk "Ancaman Propaganda Radikalisme terhadap Kehidupan Toleransi di Indonesia" di Jakarta, Jumat (3/6/2022).
Dengan lemahnya daya kritis, seseorang yang baru "hijrah" dapat terjerumus dalam propaganda tersebut. Dampaknya, kalangan baru hijrah sering menjadi “polisi moral” untuk urusan hukum agama yang sebenarnya banyak tafsir. "Kalau tidak hati-hati dan tidak cukup kritis, kita bisa ikut, karena ada katakanlah sosial atau virtual pressure juga," kata Suratno.
Baca Juga:Shamsi Ali Soroti Politisasi Agama dan Label Radikal terhadap Sebagian Ustadz
Direktur Eksekutif The Lead Institute Universitas Paramadina, Dr. Suratno mengatakan, propaganda radikalisme dan ekstremisme banyak dilakukan lewat media internet. Salah satu modusnya dengan menyasar kalangan muslim yang baru hijrah.
Baca Juga:Kemenag Kenalkan Moderasi Beragama pada Dunia Internasional
Menggunakan pembacaan akademis, lanjut Suratno, propaganda ekstremisme banyak dilakukan menggunakan unsur-unsur dalam teori mobilisasi sumber daya. Di antara yang menjadi jalan mobilisasi propaganda adalah moral dan solidaritas.
"Sekarang di internet banyak penggiringan yang propagandis soal mana yang haram, mana yang halal," kata Suratno dalam diskusi bertajuk "Ancaman Propaganda Radikalisme terhadap Kehidupan Toleransi di Indonesia" di Jakarta, Jumat (3/6/2022).
Dengan lemahnya daya kritis, seseorang yang baru "hijrah" dapat terjerumus dalam propaganda tersebut. Dampaknya, kalangan baru hijrah sering menjadi “polisi moral” untuk urusan hukum agama yang sebenarnya banyak tafsir. "Kalau tidak hati-hati dan tidak cukup kritis, kita bisa ikut, karena ada katakanlah sosial atau virtual pressure juga," kata Suratno.
Baca Juga:Shamsi Ali Soroti Politisasi Agama dan Label Radikal terhadap Sebagian Ustadz