LANGIT7.ID, Jakarta - The Lead Institute
Universitas Paramadina mengimbau masyarakat waspada terhadap propaganda
ekstremisme di internet. Banyak cara kelompok radikal dalam menggaet mangsanya agar mengikuti ideologi mereka.
Direktur Eksekutif The Lead Institute Universitas Paramadina, Dr. Suratno mengatakan, propaganda radikalisme dan ekstremisme banyak dilakukan lewat media
internet. Salah satu modusnya dengan menyasar kalangan muslim yang baru
hijrah.
Baca Juga: Kemenag Kenalkan Moderasi Beragama pada Dunia InternasionalMenggunakan pembacaan akademis, lanjut Suratno, propaganda ekstremisme banyak dilakukan menggunakan unsur-unsur dalam teori mobilisasi sumber daya. Di antara yang menjadi jalan mobilisasi propaganda adalah moral dan solidaritas.
"Sekarang di internet banyak penggiringan yang propagandis soal mana yang haram, mana yang halal," kata Suratno dalam diskusi bertajuk "Ancaman Propaganda Radikalisme terhadap Kehidupan Toleransi di Indonesia" di Jakarta, Jumat (3/6/2022).
Dengan lemahnya daya kritis, seseorang yang baru "hijrah" dapat terjerumus dalam propaganda tersebut. Dampaknya, kalangan baru hijrah sering menjadi “polisi moral” untuk urusan hukum agama yang sebenarnya banyak tafsir. "Kalau tidak hati-hati dan tidak cukup kritis, kita bisa ikut, karena ada katakanlah sosial atau
virtual pressure juga," kata Suratno.
Baca Juga: Shamsi Ali Soroti Politisasi Agama dan Label Radikal terhadap Sebagian UstadzTerdapat sejumlah strategi yang bisa digunakan untuk menangkal propaganda radikalisme dan ekstremisme di internet. Strategi tersebut yakni, pencegahan, perlindungan, pengondisian, dan penangkapan.
Dari sisi pencegahan dan penangkapan, pemerintah aktif memblokir konten-konten kebencian dan paham ekstremisme di internet. Mekanisme penangkapan juga sudah memiliki dasar hukum dengan terbitnya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk memperkuat literasi, menajamkan daya kritis dalam membaca informasi di media massa. Ciptakan ekosistem serta budaya TIK (teknologi, informasi, dan komunikasi) yang sehat. "Aktif, kalau ada yang sekiranya bermuatan propagandis atau hoaks ya kita harus aktif melaporkan ke yang berwenang biar di take down," katanya.
Baca Juga:
MUI: Terorisme dan Ekstremisme Harus Disikapi Proporsional
MUI Bahas Solusi Cegah Ekstrimisme dan Terorisme di Halaqah Kebangsaan(asf)