Kartu Prakerja Diapresiasi Bank Dunia
Redaksi
Kamis, 16 Juni 2022 - 04:00 WIB
Ilustrasi (foto: ANTARA FOTO)
Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Satu Kahkonen, menyatakan bahwa Kartu Prakerja merupakan hal yang sangat inovatif yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.
“Kartu Prakerja merupakan kebijakan pasar tenaga kerja dan program bantuan sosial, Indonesia merupakan yang pertama kali mengimplementasikan mekanisme pembayaran G2P yang ditujukan pada penerima. Itu merupakan hal yang sangat inovatif,” kata Satu Kahkonen dalam webinar "Kartu Prakerja: Indonesia's Digital Transformation and Financial Inclusion Breakthrough", Rabu (15/6/2022).
Menurut Kahkonen, ada tiga hal yang mendapat perhatian dari Bank Dunia terkait dengan Kartu Prakerja. Pertama, penting untuk menawarkan berbagai pilihan bank dan e-wallet demi kemudahan akses oleh penerima.
Baca Juga: Penting! Umat Islam Harus Punya Skill Kelola Keuangan
Kedua, sebagian besar penerima dengan segera mencairkan bantuan sosial menjadi uang tunai setelah mereka menerima. Hal itu menjawab kebutuhan dan mendorong penggunaan platform pembayaran digital.
Ketiga, adanya ruang untuk meningkatkan inklusi finansial dengan menyediakan literasi program keuangan untuk para peserta program bantuan sosial.
“Kartu Prakerja merupakan kebijakan pasar tenaga kerja dan program bantuan sosial, Indonesia merupakan yang pertama kali mengimplementasikan mekanisme pembayaran G2P yang ditujukan pada penerima. Itu merupakan hal yang sangat inovatif,” kata Satu Kahkonen dalam webinar "Kartu Prakerja: Indonesia's Digital Transformation and Financial Inclusion Breakthrough", Rabu (15/6/2022).
Menurut Kahkonen, ada tiga hal yang mendapat perhatian dari Bank Dunia terkait dengan Kartu Prakerja. Pertama, penting untuk menawarkan berbagai pilihan bank dan e-wallet demi kemudahan akses oleh penerima.
Baca Juga: Penting! Umat Islam Harus Punya Skill Kelola Keuangan
Kedua, sebagian besar penerima dengan segera mencairkan bantuan sosial menjadi uang tunai setelah mereka menerima. Hal itu menjawab kebutuhan dan mendorong penggunaan platform pembayaran digital.
Ketiga, adanya ruang untuk meningkatkan inklusi finansial dengan menyediakan literasi program keuangan untuk para peserta program bantuan sosial.