Kriteria MABIMS, Penentu Baru Awal Bulan Hijriyah Penyebab Perbedaan Idul Adha
Muhajirin
Jum'at, 01 Juli 2022 - 18:51 WIB
Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) saat menentukan kriteria baru awal bulan Hijriyah (foto: Bimas Islam)
Kementerian Agama RI kini menggunakan kriteria baru dalam menentukan awal bulan qamariyah atau tahun hijriyah. Kriteria baru itu telah disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Oleh sebab kriteria baru ini, penetapan Idul Adha tahun ini oleh Pemerintah berbeda dengan sebagian Ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam (PERSIS).
Kepala Subdirektorat Hisab dan Rukyat dan Syariah Kementerian Agama, Ismail Fahmi, menjelaskan, MABIMS bersepakat mengubah kriteria ketinggian hilal (bulan) dari 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan 8 jam menjadi ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat dalam menentukan awal bulan hijriyah.
Pada hari rukyat awal bulan Dzulhijjah Rabu (29/6/2022) lalu, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia di atas ufuk, berkisar antara 0 derajat 52 menit sampai dengan 3 derajat 13 menit, dengan sudut elongasi 4,27 derajat sampai dengan 4,97 derajat.
Baca Juga: Perbedaan Waktu Idul Adha, Ikut Pemerintah atau Arab Saudi?
Artinya jika menggunakan kriteria lama, sebenarnya bulan Dzulhijjah telah masuk dan 10 Dzulhijjah atau Idul Adha bisa jatuh pada 9 Juli 2022. Namun karena derajat hilal tersebut tidak masuk dalam kriteria baru MABIMS, maka Duzlqa'dah digenapkan 30 hari dan 10 Dzulhijjah jatuh pada 10 Juli 2022.
Oleh sebab kriteria baru ini, penetapan Idul Adha tahun ini oleh Pemerintah berbeda dengan sebagian Ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam (PERSIS).
Kepala Subdirektorat Hisab dan Rukyat dan Syariah Kementerian Agama, Ismail Fahmi, menjelaskan, MABIMS bersepakat mengubah kriteria ketinggian hilal (bulan) dari 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan 8 jam menjadi ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat dalam menentukan awal bulan hijriyah.
Pada hari rukyat awal bulan Dzulhijjah Rabu (29/6/2022) lalu, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia di atas ufuk, berkisar antara 0 derajat 52 menit sampai dengan 3 derajat 13 menit, dengan sudut elongasi 4,27 derajat sampai dengan 4,97 derajat.
Baca Juga: Perbedaan Waktu Idul Adha, Ikut Pemerintah atau Arab Saudi?
Artinya jika menggunakan kriteria lama, sebenarnya bulan Dzulhijjah telah masuk dan 10 Dzulhijjah atau Idul Adha bisa jatuh pada 9 Juli 2022. Namun karena derajat hilal tersebut tidak masuk dalam kriteria baru MABIMS, maka Duzlqa'dah digenapkan 30 hari dan 10 Dzulhijjah jatuh pada 10 Juli 2022.