Inflasi Mengancam Indonesia, Ekonom Minta Pemerintah Edukasi Masyarakat
Fajar adhitya
Selasa, 12 Juli 2022 - 20:35 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani mengingatkan risiko inflasi yang bakal dihadapi Indonesia. Untuk mengantisipasinya, pemerintah perlu melakukan sosialisasi agar masyarakat tidak kaget dengan lonjakan harga.
Aviliani menjelaskan, Indonesia mau tidak mau akan menghadapi inflasi yang lebih tinggi dari saat ini. Inflasi terjadi karena dinamika situasi global, terutama dampak perang Rusia dengan Ukraina serta kenaikan harga minyak mentah dunia. "Ada persoalan baru (setelah pandemi Covid-19) yaitusupply shock, di mana antara negara terjadi perubahan dalam men-deliverybarang imbas perang Rusia dengan Ukraina," katanya dalam diskusi virtual yang diikuti Langit7.id, Selasa (12/7/2022).
Baca Juga:Pengamat Nilai Indonesia Tak Bernasib seperti Sri Lanka, Ini Alasannya
Menurut Aviliani,banyak negara mulai memperketat distribusi ekspor mengantisipasi perang jangka panjang.Di sisi lain, upaya intervensi harga kebutuhan pokok dalam negeri tak akan banyak berkontribusi. "Supply shocktidak bisa membuat kita menurunkan harga karena otomatis suplai ke dalam negeri akan terganggu," lanjutnya.
Juni lalu, BPS mencatat inflasi mencapai 4,35 persen (year on year). Sementara inflasi inti 2,36 persen yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan pangan.
Avilani mengatakan, optimisme inflasi sekarang ini disebabkan berbagai subsidi barang oleh pemerintah, terutama di sektor energi. Namun, Aviliani menilai pemerintah tak bisa terus menerus mendorong subsidi.
Baca Juga:Ekonom Nilai BPR dan BPRS Diperlakukan Diskriminatif
Aviliani menjelaskan, Indonesia mau tidak mau akan menghadapi inflasi yang lebih tinggi dari saat ini. Inflasi terjadi karena dinamika situasi global, terutama dampak perang Rusia dengan Ukraina serta kenaikan harga minyak mentah dunia. "Ada persoalan baru (setelah pandemi Covid-19) yaitusupply shock, di mana antara negara terjadi perubahan dalam men-deliverybarang imbas perang Rusia dengan Ukraina," katanya dalam diskusi virtual yang diikuti Langit7.id, Selasa (12/7/2022).
Baca Juga:Pengamat Nilai Indonesia Tak Bernasib seperti Sri Lanka, Ini Alasannya
Menurut Aviliani,banyak negara mulai memperketat distribusi ekspor mengantisipasi perang jangka panjang.Di sisi lain, upaya intervensi harga kebutuhan pokok dalam negeri tak akan banyak berkontribusi. "Supply shocktidak bisa membuat kita menurunkan harga karena otomatis suplai ke dalam negeri akan terganggu," lanjutnya.
Juni lalu, BPS mencatat inflasi mencapai 4,35 persen (year on year). Sementara inflasi inti 2,36 persen yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan pangan.
Avilani mengatakan, optimisme inflasi sekarang ini disebabkan berbagai subsidi barang oleh pemerintah, terutama di sektor energi. Namun, Aviliani menilai pemerintah tak bisa terus menerus mendorong subsidi.
Baca Juga:Ekonom Nilai BPR dan BPRS Diperlakukan Diskriminatif