Keimanan Secara Medis Membuat Emosi Stabil dan Tingkatkan Imunitas
Muhajirin
Jum'at, 13 Agustus 2021 - 11:50 WIB
ilustrasi berdoa sebagai tanda keimanan (foto: langit7.id/istock)
Pandemi Covid-19 membawa seseorang pada kondisi stress karena banyak tekanan. Mulai dari tekanan kesehatan, ekonomi, hingga tekanan sosial. Namun, ada orang merespon kondisi itu dengan baik, sehingga mampu mengambil hikmah. Ada pula yang merespon dengan buruk, sehingga mengalami stress berkepanjangan dan mengakibatkan penyakit berdatangan.
Dokter Pakar Neuroparenting dr. Aisah Dahlan, CHt, mengatakan, situasi pandemi Covid-19 yang memicu stress, menuntut seseorang untuk bisa meningkatkan imu ugas dengan memunculkan imun alami dalam tubuh. Ia penting sebagai modal dalam mengendalikan emosi.
Secara medis emosi itu terletak di dalam otak manusia. Allah Ta’ala menciptakan otak manusia terbagi menjadi otak besar dan otak kecil, kemudian terbelah dua menjadi belahan kanan dan belahan kiri.
“Di mana letak emosi? Kalau kita belajar tentang otak, di tengah otak manusia yang disebut the limbic system, inilah tempatnya emosi. Semua manusia ada. Bahkan saat masih berada di rahim ibu, otak emosi sudah duluan bekerja. Otak emosi ini juga yang disebut otak mamalia,” kata dr. Aisah dalam Webinar Kesehatan yang digelar Kementerian Keuangan RI.
Di tengah otak ada struktur-struktur yang mengatur emosi. Itu mengingatkan pada sabda Rasulullah SAW yang menyebut jihad yang paling besar adalah mengendalikan nafsu atau emosi. Di dalam otak, terdapat otak reptil (batang otak) yang berada di bawah otak mamalia. Otak reptil dan otak mamalia dipisah lapisan otak luar (neo cortex). Otak mamalia berada di tengah, sementra otak reptil posisinya di bawah otak mamalia. Neo cortex sangat tebal membungkus otak mamalia, dan dilapisi dengan prefrontal cortex.
“Pada saat seseorang tegang itu karena otak mamalia dan otak reptil tegang. Pada kondisi itu, ilmu atau nasihat yang berada di prefrontal cortex akan terblokir sementara,” ujar dr Aisah.
Batang otak (otak reptile) terletak di dasar otak dan terhubung ke saraf tulang belakang. Selain itu, bagian otak ini juga berperan sebagai penghubung antara otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan saraf tulang belakang. Salah satu fungsi dari batang adalah, jika berada pada posisi kondisi bahaya, otak reptil merespon fight or flight (serang atau lari).
Dokter Pakar Neuroparenting dr. Aisah Dahlan, CHt, mengatakan, situasi pandemi Covid-19 yang memicu stress, menuntut seseorang untuk bisa meningkatkan imu ugas dengan memunculkan imun alami dalam tubuh. Ia penting sebagai modal dalam mengendalikan emosi.
Secara medis emosi itu terletak di dalam otak manusia. Allah Ta’ala menciptakan otak manusia terbagi menjadi otak besar dan otak kecil, kemudian terbelah dua menjadi belahan kanan dan belahan kiri.
“Di mana letak emosi? Kalau kita belajar tentang otak, di tengah otak manusia yang disebut the limbic system, inilah tempatnya emosi. Semua manusia ada. Bahkan saat masih berada di rahim ibu, otak emosi sudah duluan bekerja. Otak emosi ini juga yang disebut otak mamalia,” kata dr. Aisah dalam Webinar Kesehatan yang digelar Kementerian Keuangan RI.
Di tengah otak ada struktur-struktur yang mengatur emosi. Itu mengingatkan pada sabda Rasulullah SAW yang menyebut jihad yang paling besar adalah mengendalikan nafsu atau emosi. Di dalam otak, terdapat otak reptil (batang otak) yang berada di bawah otak mamalia. Otak reptil dan otak mamalia dipisah lapisan otak luar (neo cortex). Otak mamalia berada di tengah, sementra otak reptil posisinya di bawah otak mamalia. Neo cortex sangat tebal membungkus otak mamalia, dan dilapisi dengan prefrontal cortex.
“Pada saat seseorang tegang itu karena otak mamalia dan otak reptil tegang. Pada kondisi itu, ilmu atau nasihat yang berada di prefrontal cortex akan terblokir sementara,” ujar dr Aisah.
Batang otak (otak reptile) terletak di dasar otak dan terhubung ke saraf tulang belakang. Selain itu, bagian otak ini juga berperan sebagai penghubung antara otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan saraf tulang belakang. Salah satu fungsi dari batang adalah, jika berada pada posisi kondisi bahaya, otak reptil merespon fight or flight (serang atau lari).