LANGIT7.ID, Jakarta - Pandemi Covid-19 membawa seseorang pada kondisi stress karena banyak tekanan. Mulai dari tekanan kesehatan, ekonomi, hingga tekanan sosial. Namun, ada orang merespon kondisi itu dengan baik, sehingga mampu mengambil hikmah. Ada pula yang merespon dengan buruk, sehingga mengalami stress berkepanjangan dan mengakibatkan penyakit berdatangan.
Dokter Pakar Neuroparenting dr. Aisah Dahlan, CHt, mengatakan, situasi pandemi Covid-19 yang memicu stress, menuntut seseorang untuk bisa meningkatkan imu ugas dengan memunculkan imun alami dalam tubuh. Ia penting sebagai modal dalam mengendalikan emosi.
Secara medis emosi itu terletak di dalam otak manusia. Allah Ta’ala menciptakan otak manusia terbagi menjadi otak besar dan otak kecil, kemudian terbelah dua menjadi belahan kanan dan belahan kiri.
“Di mana letak emosi? Kalau kita belajar tentang otak, di tengah otak manusia yang disebut the limbic system, inilah tempatnya emosi. Semua manusia ada. Bahkan saat masih berada di rahim ibu, otak emosi sudah duluan bekerja. Otak emosi ini juga yang disebut otak mamalia,” kata dr. Aisah dalam Webinar Kesehatan yang digelar Kementerian Keuangan RI.
Di tengah otak ada struktur-struktur yang mengatur emosi. Itu mengingatkan pada sabda Rasulullah SAW yang menyebut jihad yang paling besar adalah mengendalikan nafsu atau emosi. Di dalam otak, terdapat otak reptil (batang otak) yang berada di bawah otak mamalia. Otak reptil dan otak mamalia dipisah lapisan otak luar (neo cortex). Otak mamalia berada di tengah, sementra otak reptil posisinya di bawah otak mamalia. Neo cortex sangat tebal membungkus otak mamalia, dan dilapisi dengan prefrontal cortex.
“Pada saat seseorang tegang itu karena otak mamalia dan otak reptil tegang. Pada kondisi itu, ilmu atau nasihat yang berada di prefrontal cortex akan terblokir sementara,” ujar dr Aisah.
Batang otak (otak reptile) terletak di dasar otak dan terhubung ke saraf tulang belakang. Selain itu, bagian otak ini juga berperan sebagai penghubung antara otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan saraf tulang belakang. Salah satu fungsi dari batang adalah, jika berada pada posisi kondisi bahaya, otak reptil merespon fight or flight (serang atau lari).
“Allah menciptakan batang otak untuk melindungi tubuh dari serangan dari luar tubuh, seperti serangan binatang buas, manusia buas, atau kondisi alam seperti bencana alam,” ujar dr Aisah.
Alasan Iman Naik TurunEmosi manusia itu berlevel seperti tangga. Tidak hanya negatif saja, tapi ada yang positif. Setiap jenis emosi memiliki frekuensi. Ibarat sebuah tangga, semakin ke bawah, maka frekuensi emosi semakin rendah.
Level tiga ke bawah ke bawah adalah apatis, sedih, dan takut. Level itu meliputi putus asa karena sedih dan takut yang berkepanjangan. Level ini dikategorikan nafs
lawwamah. Frekuensinya berada di 50 Hz (apatis), 74 Hz (sedih), dan 100 Hz (takut). Di atas takut ada varian lain seperti cemas, khawatir, bimbang, dan ragu, itu masuk di takut.
Kemudian, level keempat sampai enam ada rakus dengan frekuensi 125 Hz, marah 150 Hz, dan sombong 175 Hz. Ini dikategorikan sebagai nafsu ammarah. Di level tujuh sampai sepuluh ada emosi semangat dengan frekuensi 200 Hz, menerima 350 Hz, Damai 600 Hz, dan pencerahan 700-100 Hz.
“Ini masuk ke dalam zona ikhlas atau nafs muthmainnah. Di sinilah kondisi ridho terhadap apa yang diterima. Semua level ini ada di dalam otak manusia, dan tidak bisa hilang. Maka itu, ketika merasa sedih atau pun takut, maka berusahalah naik ke level paling atas dengan cara mengambil hikmah di balik musibah,” kata dr Aisah.
Sebetulnya, kerja emosi sangat kompleks dan sangat detail. Pendekatan mengenal level emosi merupakan salah satu cara efektif dan paling mudah untuk mengendalikan emosi. Harus disadari bahwa level emosi emosi naik turun. Apalagi dalam kondisi saat ini. Saat sudah menerima, tiba-tiba mendapat kabar duka. Emosi turun lagi.
“Tentu yang membedakan adalah ada orang yang naik level emosi dengan bijaksana dengan memanggil Dzat yang Maha Agung, namun ada orang yang waktu turun level emosinya menyebut kebun binatang. Ketika sampai level apati, itu sangat berbahaya, karena ada level depresi di bawahnya. Level depresi ini, yang muncul adalah ide mencelakai diri atau ide bunuh diri,” kata dr Aisah.
Zona ikhlas yang berada di level emosi itu pun naik turun. Kadang semangat, bisa menerima, berdamai dengan keadaan, atau mengambil hikmah. Di zona ikhlas ada banyak sekali keuntungan, kalau kita terlalu lama di zona amarah dan
lawwamah banyak kerugian.
Bahkan ketika dikatakan iman naik turun, karena memang ada level emosi. Pada saat berada di level pencerahan kita bertawakkal kepada Allah, namun saat berada di level apatis jadi lupa bahwa Dia Maha Berkehendak.
Teknik Mengendalikan EmosiSemua level-level emosi berada di otak mamalia. Kalau otak reptil hanya fight or flight, otak mamalia menyimpan sepuluh jenis emosi yang berada di tengah otak. Neo cortex yang berada di depan akan terblokir jika otak mamalia dan reptile tegang, karena otak reptile yang menghubungkan ke sumsung tulang belakang sebagai jalur perintah ke seluruh anggota tubuh.
Ada banyak teknik untuk merilekskan otak mamalia dan otak reptile, salah satunya bernafas dalam atau Tarik nafas. Dengan Tarik nafas panjang, dan buang perlahan, diharapkan bisa mengambil oksigen yang banyak, sehingga nanti ketika sudah terjadi pertukaran oksigen dengan karbondioksida di paru-paru, lalu masuk jantung, jantung memompa sehingga darah yang ke otak mamalia ini banyak mengandung oksigen. Sehingga yang tadinya tegang rileks kembali, sehingga ilmu yang ada di refrontal cortex bisa mudah terakses.
Psikiater dan ilmuan USA, Prof David R. Hawkins, mengatakan, getaran magnet energi di bawah 200 Hertz menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit. Jika frekuensi energy seseorang di atas 200 Hertz, maka dia senantiasa sehat.
Frekuensi 200 Hz itu berada di zona ikhlas dalam tangga emosi, dan posisinya berada di emosi semangat. Turun sedikit sudah berada di zona negatif.
Prof. David mengatakan, orang yang memiliki frekuensi positif 700 Hz sampai 100 Hz, maka kekebalan tubuh dan vitalitasnya sangat tinggi. Untuk kembali ke level emosi paling tinggi, atau zona ikhlas, maka satu-satunya jalan adalah kembali ke perintah Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an.
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. Atas semua kenikmatan itu, Allah menyuruh kaum muslim untuk selalu mengingat-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 152).
Kemudian, salah satu cara efektif mengelola emosi ini adalah melafalkan istighfar. Rasulullah SAW bersabda, “siapa saja yang rutin membaca istighfar maka Allah akan memberikan solusi atas setiap kesulitannya, penyelesaian bagi setiap permasalahannya, dan Dia akan memberinya rezeki dari jalan yang tak terduga.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim, dan Baihaqi).
(jqf)