Apakah Habaib Lebih Mulia dari Hamba Allah yang Lain?
Muhajirin
Jum'at, 16 September 2022 - 16:42 WIB
Para Ulama dari kalangan Alawiyyin atau Ba Alawi yang biasa dipanggil dengan panggilan Habib, sedang bermajelis bersama Habib Umar bin Hafidz dari Yaman (foto: istimewa)
Habib dan Syarifah sudah masyhur di kalangan masyarakat Indonesia. Mereka mendapatkan posisi khusus sebagai keturunan Rasulullah SAW dari jalur Hasan dan Husein, putra Fatimah Az-Zahrah binti Muhammad.
Pakar Fikih Kontemporer, Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro, mengatakan, meski ada perdebatan terkait status para habaib, namun hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Hal terpenting, para habib dan syarifah adalah keluarga Rasulullah yang harus dimuliakan.
“Bagi saya semua keturunan Nabi SAW, yang dititipkan oleh Rasulullah SAW kepada umat Islam, ada hadisnya jadi Nabi SAW selain titip agama Islam, pesan salat, pesen juga keluarga beliau,” kata KH Zahro di kanal YouTube-nya, dikutip Jumat (16/9/2022).
Baca Juga: Asal Muasal Para Habaib Zuriah Rasulullah Sampai ke Indonesia
Namun, dia menegaskan, orang yang disebut habib atau syarifah akan menjadi orang mulia jika memiliki akhlak mulia. Artinya, tidak ada kedudukan khusus di sisi Allah. Habib mulia secara sosiologis, tapi kemuliaan hakiki diukur dari ketakwaan.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS Al-Hujurat: 13).
Pakar Fikih Kontemporer, Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro, mengatakan, meski ada perdebatan terkait status para habaib, namun hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Hal terpenting, para habib dan syarifah adalah keluarga Rasulullah yang harus dimuliakan.
“Bagi saya semua keturunan Nabi SAW, yang dititipkan oleh Rasulullah SAW kepada umat Islam, ada hadisnya jadi Nabi SAW selain titip agama Islam, pesan salat, pesen juga keluarga beliau,” kata KH Zahro di kanal YouTube-nya, dikutip Jumat (16/9/2022).
Baca Juga: Asal Muasal Para Habaib Zuriah Rasulullah Sampai ke Indonesia
Namun, dia menegaskan, orang yang disebut habib atau syarifah akan menjadi orang mulia jika memiliki akhlak mulia. Artinya, tidak ada kedudukan khusus di sisi Allah. Habib mulia secara sosiologis, tapi kemuliaan hakiki diukur dari ketakwaan.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS Al-Hujurat: 13).