LANGIT7.ID, Jakarta - Habib dan Syarifah sudah masyhur di kalangan masyarakat Indonesia. Mereka mendapatkan posisi khusus sebagai keturunan Rasulullah SAW dari jalur Hasan dan Husein, putra Fatimah Az-Zahrah binti Muhammad.
Pakar Fikih Kontemporer, Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro, mengatakan, meski ada perdebatan terkait status para habaib, namun hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Hal terpenting, para habib dan syarifah adalah keluarga Rasulullah yang harus dimuliakan.
“Bagi saya semua keturunan Nabi SAW, yang dititipkan oleh Rasulullah SAW kepada umat Islam, ada hadisnya jadi Nabi SAW selain titip agama Islam, pesan salat, pesen juga keluarga beliau,” kata KH Zahro di kanal YouTube-nya, dikutip Jumat (16/9/2022).
Baca Juga: Asal Muasal Para Habaib Zuriah Rasulullah Sampai ke Indonesia
Namun, dia menegaskan, orang yang disebut habib atau syarifah akan menjadi orang mulia jika memiliki akhlak mulia. Artinya, tidak ada kedudukan khusus di sisi Allah. Habib mulia secara sosiologis, tapi kemuliaan hakiki diukur dari ketakwaan.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS Al-Hujurat: 13).
Ukuran kemuliaan seorang hamba adalah ketakwaan. Meski berasal dari garis keturunan habib dan syarifah, namun bila memiliki akhlak buruk, maka tetap tidak boleh diikuti.
“Entahlah darah siapa, darah apa, keturunan siapa, pokoknya paling bertakwa. Nabi SAW juga banyak hadis seperti itu. Tetapi secara sosiologis kemanusiaan, kita harus mengakui bahwa keturunan nabi adalah orang-orang yang mulia,” ujar KH Zahro.
KH Zahro mengaku menaruh hormat kepada para habib dan syarifah. Tentu mereka adalah orang-orang terpilih, jika taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Baca Juga: Sejarah Zuriah Rasulullah Melebur Menjadi Pribumi Nusantara
“Tapi yang jelas saya ingin pesan pada panjenengan, soal politik monggo pilihan, tapi punya jangan benci habaib yang kelakuannya baik. Jangan benci habaib yang mendakwahkan dakwahnya Nabi SAW,” ujarnya.
Demikian pula Jika ada habaib yang dizalimi, maka sebagai umat Islam tidak perlu ikut-ikutan membenci. Sebab, itu bisa mendatangkan marabahaya di akhirat kelak.
“Sekali lagi Nabi SAW menjelang wafat titip tiga hal, satu agama, dua salat salat, keluarga nabi. Kita harus jaga, jangan ikut-ikut membulli mereka. kalau tidak setuju, ya diam saja,” ungkap KH Zahro.
(jqf)