LANGIT7.ID-, Jakarta- - Ketua Majelis Ulama Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, menegaskan, MUI sangat mendukung dan mengapresiasi program
Pesantren Lansia. Program tersebut merupakan inisiasi Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI yang berkolaborasi dengan Rumah Zakat.
“Dalam Islam, keududkan penghormatan kepada orang tua itu disandingkan dengan keimanan. Di sinilah peran MUI berkhidmah kepada masyarakat dengan ikut serta memperhatikan para lansia,” ujar Niam dalam Workshop Pesantren Lansia bertajuk ‘Keselamatan dan Kesehatan Lansia’ di Jakarta, dikutip Jumat (14/4/2023).
Orang tua, dalam hal ini lansia, terikat dalam hubungan biologis dan kemanusiaan dengan anaknya. Meski kedua orang tua berbeda keyakinan, namun sang anak harus tetap berbuat baik kepadanya. Kedua orang tua harus mengetahui hak dan kewajiban masing-masing.
“Banyak dalil otoritatif, baik dari Al-Qur’an maupun hadits, yang kerap menyebut pentingnya berbuat baik kepada orang tua,” kata Niam.
Baca juga:
Zakat Tidak Membuatmu Jatuh Miskin, Tetapi Meningkatkan Keberkahan HartamuPesantren Lansia merupakan bentuk dari fungsi pengkhidmatan MUI sebagai himayatul ummah. Persoalan ini menjadi hal yang strategis, sebab isu kemanusiaan terkait dengan anak-anak dan lansia menjadi arus utama. Tidak hanya dalam perspektif agama, tapi juga menjadi kesadaran kolektif di masyarakat.
“Pesantren Lansia bukan sekadar pemberian layanan kesehatan fisik dan mental melainkan lebih dari itu, kita juga tidak melupakan aspek bimbingan rohani bagi mereka,” tutur Niam.
Ketua MUI Bidang PRK, Prof Amany Lubis, mengingatkan, tugas menyejahterakan para lansia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Sebab masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, memikul tugas yang sama pula.
“Saya kira perlu saling menguatkan dalam konteks ini. kita berkewajiban memperhatikan orang tua sebagai landasan agama yang menjadi motivasi bagi MUI menggalakkan program ini bersama Rumah Zakat,” ungkap Amany Lubis.
Dia menjelaskan tujuan MUI membentuk Pesantren Lansia. Hal itu merupakan upaya memberikan kesejahteraan lahir, batin, serta kesehatan mental. “Tujuan ini yang nantinya dapat menyediakan tempat yang nyaman bagi lansia agar merasa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat,” ungkap Amany Lubis.
Menteri Sosial, Tri Rismaharini
Banyak Lansia Hidup Sendiri dan Meninggal Sebatang KaraMenteri Sosial, Tri Rismaharini, menyatakan, sensitivitas terhadap lansia adalah salah satu bagian penting dalam sebuah keluarga dan dalam kehidupan bermasyarakat. Kesejahteraan lansia menjadi tanggung jawab bersama dalam ruang sosial.
Risma juga membagikan pengalaman tentang program kepedulian kepada lansia yang pernah dia lakukan bersama tim di Surabaya. Dia menyebut pada 2022, Kemensos memberikan bantuan kepada 334.011 lansia yang rentan berusia 80 tahun ke atas, khususnya bagi lansia yang hidup sebatang kara dan sudah tidak mampu merawat dirinya sendiri.
“Saya pernah menemukan seorang lansia meninggal sudah empat hari, tapi tidak ada yang tahu. Akhirnya saya membuat kebijakan, saya buat Posyandu Lansia. Dalam Posyandu lansia tersebut adalah anggota lansia semuanya,” ungkap Risma dalam Workshop Pesantren Lansia.
Dalam kunjungan kerjanya di beberapa daerah, Risma sering mendapat laporan dari warga bahwa masih ada lansia yang hidup sendiri dan akhirnya ditemukan meninggal. Oleh karena itu, Kemensos harus mencari cara untuk menjangkau lokasi-lokasi terpencil guna meminimalisir permasalahan terhadap lansia di negeri ini.
Meskipun menangani masalah ini sulit, Risma selalu menekankan bahwa tujuan seseorang tidak hanya untuk hidup di dunia, tetapi juga untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan setelah kematian.
“Tetapi saya selalu tekankan bahwa kita ini mau masuk surga di tingkat berapa? (Keinginan harus dibarengi dengan usaha keras), tujuan kita ini bukan hanya bagaimana kita hidup di dunia, melainkan bagaimana nanti setelah kita dipanggil oleh Yang memiliki hidup ini,” ungkap Risma.
(ori)