LANGIT7.ID - Sebutan Habaib atau habib adalah sebutan antropologis untuk orang-orang Hadramaut yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Husein bin Ali. Asal mula keturunan Nabi Muhammad di Indonesia diawali migrasi keturunan Sayyidina Husein di Hadramaut dari jalur seorang ulama bernama al-Imam as-Sayyid 'Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir.
Nama lengkap datuk para habaib yang hijrah ke Nusantara ini adalah al-Imam as-Sayyid 'Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah Az-Zahra binti Muhammad SAW.
Keturunan nabi dari jalur Alawi di Tanah Air disebut Alawiyin atau Ba’ alawi. Keturunan Alawiyin inilah yang kemudian dipanggil habib. Jadi, habib sebenarnya hanya panggilan. Sementara sebutan atau gelar resmi mereka adalah sayyid atau sayyidah dan syarif atau syarifah.
Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf menceritakan, Imam Alwi adalah anak dari seorang ulama besar dan tawadhu di Hadramaut yang bernama Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa. Ubaidillah disebut-sebut sebagai datuk para habaib di Indonesia dari Hadramaut.
“Maqamnya begitu tinggi, tetapi beliau memiliki sifat yang sangat tawadhu. Beliau orang yang sangat tawadhu karena Allah. Beliau adalah tawadhu hakiki, Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir ini tidak mau disebut namanya dengan nama Abdullah (hamba Allah), kenapa? Karena itu dianggap kurang tawadhu. Maka itu, dia menamai dirinya Ubaidullah (hamba kecil Allah),” kata Habib Taufiq melalui kanal youtube Nabawiy Online Channel, dikutip Kamis (26/8/2021).
Menurut Habib Taufiq, keberkahan tawadhu dari Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir terpercik hingga ke Indonesia. Keturunan beliau menjadi orang-orang shalih dan bertebaran di muka bumi mensyiarkan ajaran Islam. Dimulai oleh anak beliau al-Imam as-Sayyid 'Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir dilanjutkan anak cucu dan keturunannya hingga sekarang.
Mengutip kitab Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, Imam Alwi lahir di Hadramaut dan besar di sana. Ia mendapat pendidikan langsung dari Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir.
Keseharian beliau sibuk memperdalam berbagai ilmu agama. Selain menuntut ilmu di Hadramaut, ia menuntut ilmu sampai ke kota Makkah dan Madinah. Beliau orang yang pertama kali diberi nama Alwi, yaitu nama yang asalnya diambil dari nama burung yang terkenal. Keturunan beliau dikenal dengan nama keluarga Ba’alawy.
Pada 20 April 1962 di Pasuruan, Jawa Timur terdapat pertemuan dan musyawarah yang dihadiri oleh 165 ulama besar Indonesia. Salah satu pembahasan dari pertemuan itu adalah awal masuk Islam ke Indonesia.
“Setelah mendengarkan, membahas dan mencari bukti-bukti tentang hal tersebut di atas memutuskan bahwa yang pertama memasukkan Islam ke Indonesia adalah para Syarif 'Alawiyyin dari Hadhramaut yang bermadzhab Syafi`i,” demikian petikan salah satu kesimpulan pertemuan tersebut.
Dari pertemuan tersebut menyimpulkan bahwa mata rantai para ulama Islam tidak pernah terputus. Terkuak pula alasan mayoritas umat Islam bermazhab syafi’I. Ini tak lepas dari Habib Alwi bin Ubaidillah yang bermazhab sunni syafi’i.
Sementara menurut Hikmawan Saefulloh dalam bukunya Kaum Arab Hadrami di Indonesia: Sejarah dan Dinamika Diasporanya, di antara marga-marga Hadramaut yang pertama-tama ke Indonesia adalah keluarga Basyaiban, yaitu
Sayyid Abdurrahman bin Abu Hafs Umar Basyaiban pada abad ke-17 Masehi.
Pada zaman kejayaan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, beberapa keturunan Arab dirajakan oleh masyarakat setempat, antara lain di Jawa (Demak, Cirebon, Banten, dan Sumedang Larang), Sumatra (Peureulak, Aceh, Siak, Pelalawan, dan Riau-Lingga), hingga Kalimantan (Sambas, Pontianak, Mempawah, Kubu, Sabamban, dan Pasir). Selain itu, sejak lama pula banyak sekali keturunan Arab yang menjadi pedagang, dan mereka tersebar di berbagai penjuru kepulauan Indonesia.
Kaum Arab Hadramaut yang datang pada abad ke-18 dan sesudahnya, tidak banyak melakukan pernikahan dengan penduduk asli sebagaimana gelombang kedatangan yang sebelumnya. Mereka datang sudah membawa nama marga-marga yang terbentuk belakangan (sekitar abad 16-17). Keturunan kaum Arab Hadramaut yang datang belakangan ini, masih mudah dikenali melalui nama-nama khas marga mereka seperti Assegaf, Al-Jufri, Al-Attas, Syihab, Smith dan sebagainya.
(jqf)