Kapolri Ungkap 11 Personel Polisi Tembak Gas Air Mata di Tragedi Kanjuruhan
Ummu hani
Jum'at, 07 Oktober 2022 - 10:47 WIB
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan ada 11 personel Polri yang menembakkan gas air mata dalam Tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022). Gas air mata yang ditembakkan ke tribun selatan dan utara, diduga menjadi penyebab tewasnya 125 orang dalam tragedi sepak bola itu.
"Terdapat 11 personel yang menembakkan gas air mata, ke tribun selatan kurang lebih 7 tembakan, tribun utara 1 tembakan dan ke lapangan 3 tembakan. Ini yang kemudian mengakibatkan para penonton terutama yang ada di tribun yang ditembakkan tersebut kemudian panik, merasa pedih dan kemudian berusaha meninggalkan arena," lanjutKapolri.
Baca juga: Temuan Komnas HAM, Gas Air Mata Jadi Penyebab Tragedi Kanjuruhan
Jenderal Listyo menyampaikan, tragedi diawali ketika beberapa suporter turun ke lapangan. Personel polisi kemudian bersiap untuk melakukan pengamanan.
"Penonton semakin banyak yang turun ke lapangan sehingga pada saat itu beberapa anggota kemudian mulai melakukan kegiatan-kegiatan penggunaan kekuatan, seperti yang kita lihat ada yang menggunakan tameng, termasuk pada saat mengamankan kiper Arema FC," ujar Jenderal Listyo dalam siaran pers, mengutip dari kanal YouTube Humas Malang TV, Jumat, (7/10/2022).
Lebih lanjut Jenderal Listyo menyebut, anggota Polisi yang menembakan gas air mata bertujuan mencegah suporter semakin banyak masuk ke lapangan.
"Tembakan tersebut dilakukan dengan maksud untuk mencegah agar penonton yang kemudian turun ke lapangan itu bisa dicegah," ucapnya.
"Terdapat 11 personel yang menembakkan gas air mata, ke tribun selatan kurang lebih 7 tembakan, tribun utara 1 tembakan dan ke lapangan 3 tembakan. Ini yang kemudian mengakibatkan para penonton terutama yang ada di tribun yang ditembakkan tersebut kemudian panik, merasa pedih dan kemudian berusaha meninggalkan arena," lanjutKapolri.
Baca juga: Temuan Komnas HAM, Gas Air Mata Jadi Penyebab Tragedi Kanjuruhan
Jenderal Listyo menyampaikan, tragedi diawali ketika beberapa suporter turun ke lapangan. Personel polisi kemudian bersiap untuk melakukan pengamanan.
"Penonton semakin banyak yang turun ke lapangan sehingga pada saat itu beberapa anggota kemudian mulai melakukan kegiatan-kegiatan penggunaan kekuatan, seperti yang kita lihat ada yang menggunakan tameng, termasuk pada saat mengamankan kiper Arema FC," ujar Jenderal Listyo dalam siaran pers, mengutip dari kanal YouTube Humas Malang TV, Jumat, (7/10/2022).
Lebih lanjut Jenderal Listyo menyebut, anggota Polisi yang menembakan gas air mata bertujuan mencegah suporter semakin banyak masuk ke lapangan.
"Tembakan tersebut dilakukan dengan maksud untuk mencegah agar penonton yang kemudian turun ke lapangan itu bisa dicegah," ucapnya.