home sosok muslim

Pangeran Diponegoro, Bergerilya Melawan Penjajah Sambil Berdakwah

Selasa, 17 Agustus 2021 - 14:39 WIB
Ilustrasi Pangeran Diponegoro (foto: geheugenvannederland.nl.)
Pangeran Harya Dipanegara sangat masyhur dalam buku sejarah. Ia adalah pahlawan Republik Indonesia yang memimpin perang Diponegoro atau perang Jawa dalam periode 1825-1830 melawan pemerintah Hindia Belanda. Namun, tak banyak yang tahu jika beliau merupakan sosok ulama yang menjadi guru para bangsawan.

Pangeran Diponegoro merupakan ulama besar dengan wawasan Islam yang sangat mendalam, terutama di kajian fiqih politik. Selain Taqrib, sang pangeran mempelajari al-Muharrar-nya Imam Ar-Rafi’i (w. 623 H/1226 M) dan Lubab al-Fiqh karya al-Mahamili (w. 415 H/1024 M). Dia juga belajar Fath al-Wahhab karya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H).

“Ketika pada akhirnya bergerilya, Diponegoro mengajarkan Taqrib dan juga kitab politik At-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk karya Imam al-Ghazali, kepada para bangsawan pendukungnya. Sedangkan Kiai Mojo, penasehatnya, kebagian tugas mengajarkan Fath al-Wahhab kepada para laskar ulama,” tulis Gus Rijal dalam tulisannya berjudul Pondok Pesantren: Noktah Awal Peradaban Islam di Indonesia, dikutip Selasa, (17/8/2021).

Bahkan, Gurutta Ahmad Baso dalam buku Islam Nusantara: Ijtihad Jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia mengatakan, Pangeran Diponegoro menjadikan kitab fiqih karya Imam Al-Ghazali itu sebagai rujukan dalam bernegosiasi dengan kompeni Belanda saat mengajukan perundingan damai.

Gus Rijal menjelaskan, di bidang politik, Pangeran Diponegoro menggunakan kitab Taj al-Salatin karya Bukhari al-Jauhari, seorang keturunan Persia yang mengabdi di era Sultan Sayyidil Mukammil (1588-1604), Raja Aceh. Kita tersebut berisi etika menjalankan pemerintahan bagi para birokrat.

Ada pula riwayat yang menyebutkan jika Pangeran Diponegoro mempelajari karya Syekh Nurruddin Ar-Raniri, berjudul Bustanus Salatin saat masih mudah. Sang pangeran juga mempelajari kitab berbahasa Melayu yang dirujuk oleh sang pangeran, yang berjudul Sulalat al-Salatin.

“Karena terkesan dengan beberapa kitab ini, ia kemudian merekomendasikannya kepada adiknya, calon Sultan Hamengkubuwono IV, manakala sedang ditempa di keratin,” kata Gus Rijal.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
jejak ulama pejuang kemerdekaan hari merdeka
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya