Tugas Berat Nabi Ibrahim Mentauhidkan Anak-Anak dan Keturunannya
Azhar azis
Kamis, 08 Juli 2021 - 09:32 WIB
Masjid Halil-ur Rahman (Kekasih Allah) dan Kolam Ibrahim (Ibrahim), Urfa (Sanliurfa), Turki. Foto: LANGIT7.ID/ iStock)
Tatkala Allah SWT memberikan kepemimpinan bagi Ibrahim Khalilullah sebagai imam bagi ummat manusia, Ibrahim tidak melupakan keturunannya. Maka Allah mengabulkan permohonannya tetapi tidak bagi orang-orang yang lalim.
“Dan ingatlah. Ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata, Dan saya mohon juga dari keturunanku. Allah berfirman, janji-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang lalim.” (QS al-Baqarah [2]: 124).
Karena itu, menjadi tugas berat bagi Ibrahim untuk mentauhidkan semua anak-anaknya, dan anak-anaknya juga mentauhidkan semua keturunannya demi memenuhi janji Allah tersebut. Setiap kitab yang diturunkan dari langit setelah Ibrahimn maka nabi tersebut dari keturunan Ibrahim.
Lahirlah dua anak laki-laki Ibrahim yang agung. Ismail lahir dari Hajar dan Ishaq lahir dari Sarah. Dari Ishaq lahirlah Ya'qub, yaitu Israil di mana seluruh bani Israil dinisbatkan kepada Nabi Ya'qub. Dari kalangan mereka muncul sejumlah nabi yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dzat yang telah mengutus mereka hingga kelahiran Isa bin Maryam yang juga dari kalangan bani Israil.
Dari saudara Nabi Ibrahim, Haran bin Tarih, lahirlah Luth. Selain Haran, satu lagi saudara Ibrahim adalah Nahur. Seluruh kabilah bangsa Arab pun berasal dari Ismail dan lahir seorang nabi penutup dan penghulu para nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Dialah penghulu yang menjadi kebanggaan ummat manusia hingga akhir zaman. Dalam Sahih Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Aku akan akan menduduki sebuah kedudukan di mana seluruh makhluk menyukaiku hingga Ibrahim". (HR Muslim).
Dalam Al-Qur'an sangat jelas bahwa ajaran yang turun kepada Ibrahim adalah ajaran yang sampai pada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi penutup. Allah menjelaskan bahwa Ibrahim berada di atas agama Allah yang hanif, yaitu agama yang bertentangan dengan keyakinan Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrikin.Dalam firman-Nya, Allah membantah ahlu kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang mengklaim bahwa Ibrahim berada di atas agama mereka.
"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah orang yang lurus lagi berserah diri kepada Allah dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (QS Ali-Imran [3]: 65-67).
“Dan ingatlah. Ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata, Dan saya mohon juga dari keturunanku. Allah berfirman, janji-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang lalim.” (QS al-Baqarah [2]: 124).
Karena itu, menjadi tugas berat bagi Ibrahim untuk mentauhidkan semua anak-anaknya, dan anak-anaknya juga mentauhidkan semua keturunannya demi memenuhi janji Allah tersebut. Setiap kitab yang diturunkan dari langit setelah Ibrahimn maka nabi tersebut dari keturunan Ibrahim.
Lahirlah dua anak laki-laki Ibrahim yang agung. Ismail lahir dari Hajar dan Ishaq lahir dari Sarah. Dari Ishaq lahirlah Ya'qub, yaitu Israil di mana seluruh bani Israil dinisbatkan kepada Nabi Ya'qub. Dari kalangan mereka muncul sejumlah nabi yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dzat yang telah mengutus mereka hingga kelahiran Isa bin Maryam yang juga dari kalangan bani Israil.
Dari saudara Nabi Ibrahim, Haran bin Tarih, lahirlah Luth. Selain Haran, satu lagi saudara Ibrahim adalah Nahur. Seluruh kabilah bangsa Arab pun berasal dari Ismail dan lahir seorang nabi penutup dan penghulu para nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Dialah penghulu yang menjadi kebanggaan ummat manusia hingga akhir zaman. Dalam Sahih Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Aku akan akan menduduki sebuah kedudukan di mana seluruh makhluk menyukaiku hingga Ibrahim". (HR Muslim).
Dalam Al-Qur'an sangat jelas bahwa ajaran yang turun kepada Ibrahim adalah ajaran yang sampai pada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi penutup. Allah menjelaskan bahwa Ibrahim berada di atas agama Allah yang hanif, yaitu agama yang bertentangan dengan keyakinan Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrikin.Dalam firman-Nya, Allah membantah ahlu kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang mengklaim bahwa Ibrahim berada di atas agama mereka.
"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah orang yang lurus lagi berserah diri kepada Allah dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (QS Ali-Imran [3]: 65-67).