home edukasi & pesantren

Insists: Childfree Produk Generasi Pendek Akal

Selasa, 24 Agustus 2021 - 18:00 WIB
ilustrasi childfree (foto: langit7.id/istock)
Peneliti senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Henri Shalahuddin, menjelaskan, childfree adalah produk generasi pendek akal, orang yang tak punya cita-cita, dan anti masa depan. Istilah childfree populer setelah ramai menjadi perbincangan di media sosial.

Henri menganalogikan antara childfree dengan car free day, meski sama-sama berimbuhan free, car free day dan childfree memiliki perbedaan mendasar. Car free day cocok untuk melepas penat dari hiruk-pikuk kepadatan ibu kota. Sedang childfree berpotensi membuat pening kehidupan di masa tua nanti.

“Dunia ini memang beragam. Ada yang membangun, ada yang merusak. Ada yang mengajari berprestasi, ada yang mengajar korupsi. Baik korupsi materi maupun korupsi nilai. Ada program car free day, tapi juga muncul child free choice,” kata Henri dikutip akun resmi INSISTS, Selasa (24/8/2021).

Istilah childfree adalah niat menikah tapi tidak mau punya anak. Meskipun dikemas dengan pilihan hidup pribadi, sebenarnya ide semacam ini bukan murni ide pribadinya. Dulu ada international childfree day atau hari tanpa anak internasional. Gerakan itu dikampanyekan setiap 1 Agustus oleh national organization for non parent (NON) di Amerika Serikat sekitar 1972 atau 1973.

Tujuan childfree day awalnya untuk mengumpulkan dan menghibur kumpulan pasangan yang menghadapi kritik dan cemooh di Amerika Serikat, sebab mereka memutuskan tidak mau punya anak. Perayaan 1 Agustus juga bertujuan agar masyarakat Amerika mau menerima secara terbuka bagi pasangan yang ingin menikmati hidupnya tanpa beban anak.

“Slogan mau enak tanpa anak yang ditopang paham individualisme dan feminisme pada akhirnya melandasi pola individualistis masyarakat barat,” ucap Henri.

Isu-isu kebutuhan perempuan, terkhusus hak mutlak mengelola organ reproduksi sendiri tanpa intervensi agama dan negara kian marak digabungkan faktor fertility atau kesuburan. Ini selalu ditunjuk sebagai penyebab perempuan mengalami diskriminasi marginalisasi dan kekerasan rumah tangga.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
childfree parenting muslim manajemen keluarga
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya