LANGIT7.ID, Jakarta - Peneliti senior
Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Henri Shalahuddin, menjelaskan,
childfree adalah produk generasi pendek akal, orang yang tak punya cita-cita, dan anti masa depan. Istilah
childfree populer setelah ramai menjadi perbincangan di media sosial.
Henri menganalogikan antara
childfree dengan
car free day, meski sama-sama berimbuhan
free,
car free day dan
childfree memiliki perbedaan mendasar.
Car free day cocok untuk melepas penat dari hiruk-pikuk kepadatan ibu kota. Sedang
childfree berpotensi membuat pening kehidupan di masa tua nanti.
“Dunia ini memang beragam. Ada yang membangun, ada yang merusak. Ada yang mengajari berprestasi, ada yang mengajar korupsi. Baik korupsi materi maupun korupsi nilai. Ada program car free day, tapi juga muncul
child free choice,” kata Henri dikutip akun resmi INSISTS, Selasa (24/8/2021).
Istilah
childfree adalah niat menikah tapi tidak mau punya anak. Meskipun dikemas dengan pilihan hidup pribadi, sebenarnya ide semacam ini bukan murni ide pribadinya. Dulu ada
international childfree day atau hari tanpa anak internasional. Gerakan itu dikampanyekan setiap 1 Agustus oleh
national organization for non parent (NON) di Amerika Serikat sekitar 1972 atau 1973.
Tujuan
childfree day awalnya untuk mengumpulkan dan menghibur kumpulan pasangan yang menghadapi kritik dan cemooh di Amerika Serikat, sebab mereka memutuskan tidak mau punya anak. Perayaan 1 Agustus juga bertujuan agar masyarakat Amerika mau menerima secara terbuka bagi pasangan yang ingin menikmati hidupnya tanpa beban anak.
“Slogan mau enak tanpa anak yang ditopang paham individualisme dan feminisme pada akhirnya melandasi pola individualistis masyarakat barat,” ucap Henri.
Isu-isu kebutuhan perempuan, terkhusus hak mutlak mengelola organ reproduksi sendiri tanpa intervensi agama dan negara kian marak digabungkan faktor fertility atau kesuburan. Ini selalu ditunjuk sebagai penyebab perempuan mengalami diskriminasi marginalisasi dan kekerasan rumah tangga.
Provokasi feminis bahwa perempuan dijajah oleh laki-laki karena mengandung dan berketurunan berdampak negatif dalam kehidupan bernegara. Provokasi itu membuat pertumbuhan penduduk merosot. Bahkan di beberapa negara di Barat mencapai angka minus; jumlah yang mati lebih banyak daripada angka yang lahir.
Padahal, beragam
benefit diberikan negara bagi kaum wanita yang mau punya anak. Di antaranya meliputi pra dan pasca melahirkan seperti layanan kesehatan gratis, cuti kerja gratis, hingga tunjangan uang pengasuhan dan pendidikan anak.
“Namun dampak provokasi
childfree dan paham individualisme serta feminisme terlanjur mengakar kokoh dalam gaya hidup masyarakat barat,” ucap Henri.
Dulu ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya, “saya telah mendapati atau berkenalan dengan perempuan yang tinggi status sosialnya dan dia juga sangat cantik, tetapi ia tidak ingin melahirkan?”
Nabi bersabda, “tidak!”
Meskipun pemuda tadi bertanya berulang kali, jawaban nabi tetap sama, “tidak!”.
Nabi lalu bersabda, “menikahlah dengan pasangan wanita dengan sifat penuh kasih dan sangat produktif, yaitu berpotensi melahirkan banyak keturunan, sesungguhnya kelak, aku akan melebihi jumlah pengikut dibanding nabi-nabi lain, karena kalian.” (HR Abu Dawud).
Pernikahan dalam Islam adalah ibadah yang menyempurnakan agama bagi kedua mempelai. Sedang anak adalah investasi orang tua yang melanjutkan aliran amal jariyah. Keluarga adalah mihrab untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana mihrab shalat. Mendidik anak perempuan merupakan pintu yang sangat luas sebagai media bertaqarrub kepada sang pencipta.
Islam mengajarkan bahwa keluarga adalah kesatuan terkecil yang bertanggung jawab mewujudkan terciptanya masyarakat yang damai dan berkeadaban. Keluarga harus menjadi benteng yang melindungi dan terlindungi.
Membangun keluarga adalah setengah agama. Menjaga keluarga adalah implementasi dari keimanan. Memerangi segala wabah yang mengancam keluarga adalah jihad. Merawat buah yang terlahir darinya, putra-putri, adalah bentuk syiar agama.
“Kampanye tidak mau punya anak hanyalah produk generasi pendek akal, pendek cita-cita, dan anti masa depan. Mereka terlalu yakin bakal muda terus, kuat terus, dan tidak menua. Ingat, musim semi pasti berlalu, seiring dengan datangnya badai salju yang menyelimuti kulit keriput sepasang orang tua renta di pojok ruang musim dingin,” jelas Henri.
(jqf)