Ciri-ciri Orang dengan Sifat People Pleaser: Selalu Berkata 'Ya'
Mahmuda attar hussein
Jum'at, 10 Februari 2023 - 17:15 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Sifat people pleaserbisa dikenali pada diri dengan memahami ciri-cirinya. Salah satu sifat people pleaser adalah orang yang selalu mengatakan "Ya".
Psikolog UGM, Smita Dinakaramani menjelaskan orang-orang yang selalu berkata "Ya" adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri rendah. Itulah yang menjadi faktor pendorong dan menyebabkan orang menjadi people pleaser.
"Orang-orang dengan kepercayaan diri rendah beranggapan bahwa mengatakan 'Ya' akan membuatnya merasa berguna. Namun ketika menyatakan 'Tidak', mereka menganggap dirinya jadi tidak berguna," kata Smita dikutip dari laman UGM, Jumat (10/2/2023).
Baca Juga:Sifat People Pleaser dan Bahayanya bagi Kesehatan Mental
Selain itu, kecemasan dalam adaptasi terhadap lingkungan juga menjadi faktor yang membuat orang memiliki sifat people pleaser. Orang-orang ini cemas dan takut terjadinya takut konflik dan ditolak dalam kehidupan sosial.
Hal tersebut membuat people pleaser sering memprioritaskan kepentingan maupun perasaan orang lain. Bahkan, sekalipun hal itu harus merugikan dirinya sendiri.
"People pleaser menaruh kebutuhan mereka di urutan paling akhir. Mereka menilai perasaan, kebutuhan, serta opini dari diri sendiri tidak lebih penting dari orang lain," ungkap Smita.
Psikolog UGM, Smita Dinakaramani menjelaskan orang-orang yang selalu berkata "Ya" adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri rendah. Itulah yang menjadi faktor pendorong dan menyebabkan orang menjadi people pleaser.
"Orang-orang dengan kepercayaan diri rendah beranggapan bahwa mengatakan 'Ya' akan membuatnya merasa berguna. Namun ketika menyatakan 'Tidak', mereka menganggap dirinya jadi tidak berguna," kata Smita dikutip dari laman UGM, Jumat (10/2/2023).
Baca Juga:Sifat People Pleaser dan Bahayanya bagi Kesehatan Mental
Selain itu, kecemasan dalam adaptasi terhadap lingkungan juga menjadi faktor yang membuat orang memiliki sifat people pleaser. Orang-orang ini cemas dan takut terjadinya takut konflik dan ditolak dalam kehidupan sosial.
Hal tersebut membuat people pleaser sering memprioritaskan kepentingan maupun perasaan orang lain. Bahkan, sekalipun hal itu harus merugikan dirinya sendiri.
"People pleaser menaruh kebutuhan mereka di urutan paling akhir. Mereka menilai perasaan, kebutuhan, serta opini dari diri sendiri tidak lebih penting dari orang lain," ungkap Smita.