Bisakah Peristiwa Isra Mi’raj Dipahami dengan Perspektif Sains?
Muhajirin
Sabtu, 18 Februari 2023 - 21:00 WIB
Komplek Masjidil Aqsa Yerusalem di malam hari (foto: langit7.id/istock)
Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (Insists) Dr. Budi Handrianto, menjelaskan, peristiwa Isra Mi’raj merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW. Maka, mukjizat tersebut merupakan ranah yang harus diimani.
Dalam Islam, kebenaran wahyu sudah final. Tak perlu lagi mencari kebenaran, karena kebenaran sudah termaktub dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Hal yang bisa dilakukan adalah menafsirkan atau menguraikan kebenaran yang ada dalam wahyu tersebut. Dari uraian itu ada hikmah untuk memperkuat iman.
Demikian pula dengan peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa itu merupakan fakta sejarah yang diimani oleh setiap umat Islam. Namun, banyak orang yang meragukan lantaran diklaim tidak sesuai dengan fakta-fakta sains.
Baca Juga:Isra dan Miraj 2 Peristiwa Berbeda, Ini Penjelasannya Menurut Al-Quran
Sains merupakan penjelasan terhadap fenomena alam (description of nature). Dalam filsafat, sains modern (Barat) sumber sains yang diakui hanya akal (ratio) dan pancaindra (empiris). Maka, sesuatu dikatakan saintifik (ilmiah) jika dapat diindra atau bisa dibuktikan secara empiris serta masuk akal (rational).
“Jika syarat sesuatu saintifik didasarkan pada sumber tersebut, maka pertanyaan: di mana letak dimensi saintifik peristiwa Isra Mi’raj? Jawabnya, tidak ada. Sehingga, kita pun tidak perlu mencari-cari segi ilmiah dari peristiwa tersebut,” kata Budi, dikutip laman resmi Insists, Sabtu (18/2/2023).
Jika mata bisa melihat suatu benda karena memerlukan cahaya, maka mata hari saat melihat kebenaran memerlukan cahaya kebenaran yaitu wahyu. Maka, jika ingin mengetahui Isra dan Mi’raj secara jelas, maka harus dilihat dari wahyu, bukan ke dunia sains.
Dalam Islam, kebenaran wahyu sudah final. Tak perlu lagi mencari kebenaran, karena kebenaran sudah termaktub dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Hal yang bisa dilakukan adalah menafsirkan atau menguraikan kebenaran yang ada dalam wahyu tersebut. Dari uraian itu ada hikmah untuk memperkuat iman.
Demikian pula dengan peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa itu merupakan fakta sejarah yang diimani oleh setiap umat Islam. Namun, banyak orang yang meragukan lantaran diklaim tidak sesuai dengan fakta-fakta sains.
Baca Juga:Isra dan Miraj 2 Peristiwa Berbeda, Ini Penjelasannya Menurut Al-Quran
Sains merupakan penjelasan terhadap fenomena alam (description of nature). Dalam filsafat, sains modern (Barat) sumber sains yang diakui hanya akal (ratio) dan pancaindra (empiris). Maka, sesuatu dikatakan saintifik (ilmiah) jika dapat diindra atau bisa dibuktikan secara empiris serta masuk akal (rational).
“Jika syarat sesuatu saintifik didasarkan pada sumber tersebut, maka pertanyaan: di mana letak dimensi saintifik peristiwa Isra Mi’raj? Jawabnya, tidak ada. Sehingga, kita pun tidak perlu mencari-cari segi ilmiah dari peristiwa tersebut,” kata Budi, dikutip laman resmi Insists, Sabtu (18/2/2023).
Jika mata bisa melihat suatu benda karena memerlukan cahaya, maka mata hari saat melihat kebenaran memerlukan cahaya kebenaran yaitu wahyu. Maka, jika ingin mengetahui Isra dan Mi’raj secara jelas, maka harus dilihat dari wahyu, bukan ke dunia sains.