Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 21 Februari 2024
home edukasi & pesantren detail berita

Bisakah Peristiwa Isra Miraj Dipahami dengan Perspektif Sains?

Muhajirin Sabtu, 18 Februari 2023 - 21:00 WIB
Bisakah Peristiwa Isra Miraj Dipahami dengan Perspektif Sains?
Komplek Masjidil Aqsa Yerusalem di malam hari (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (Insists) Dr. Budi Handrianto, menjelaskan, peristiwa Isra Mi’raj merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW. Maka, mukjizat tersebut merupakan ranah yang harus diimani.

Dalam Islam, kebenaran wahyu sudah final. Tak perlu lagi mencari kebenaran, karena kebenaran sudah termaktub dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Hal yang bisa dilakukan adalah menafsirkan atau menguraikan kebenaran yang ada dalam wahyu tersebut. Dari uraian itu ada hikmah untuk memperkuat iman.

Demikian pula dengan peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa itu merupakan fakta sejarah yang diimani oleh setiap umat Islam. Namun, banyak orang yang meragukan lantaran diklaim tidak sesuai dengan fakta-fakta sains.

Baca Juga: Isra dan Miraj 2 Peristiwa Berbeda, Ini Penjelasannya Menurut Al-Quran

Sains merupakan penjelasan terhadap fenomena alam (description of nature). Dalam filsafat, sains modern (Barat) sumber sains yang diakui hanya akal (ratio) dan pancaindra (empiris). Maka, sesuatu dikatakan saintifik (ilmiah) jika dapat diindra atau bisa dibuktikan secara empiris serta masuk akal (rational).

“Jika syarat sesuatu saintifik didasarkan pada sumber tersebut, maka pertanyaan: di mana letak dimensi saintifik peristiwa Isra Mi’raj? Jawabnya, tidak ada. Sehingga, kita pun tidak perlu mencari-cari segi ilmiah dari peristiwa tersebut,” kata Budi, dikutip laman resmi Insists, Sabtu (18/2/2023).

Jika mata bisa melihat suatu benda karena memerlukan cahaya, maka mata hari saat melihat kebenaran memerlukan cahaya kebenaran yaitu wahyu. Maka, jika ingin mengetahui Isra dan Mi’raj secara jelas, maka harus dilihat dari wahyu, bukan ke dunia sains.

Baca Juga: Isi Sidratul Muntaha di Langit 7 Sebagaimana Disaksikan Rasulullah

Dalam filsafat ilmu Islam, selain mengakui empiris dan rasio, sains Islam juga mengakui sumber khabar sadiq yaotu wahyu dan keterangan orang yang memiliki otoritas. Satu lagi yakni intuisi (ilham).

“Jadi, channel of knowledge dalam Islam adal empat yakni akal, pancaindra, khabar shadiq, dan intuisi,” ucap Budi.

Akal belum bisa mengjangkau peristiwa Mi’raj sampai saat ini. jika perjalanan mi’raj menggunakan kecepatan cahaya saja dalam waktu semalaman, perjalanan baru sampai ke Planet Jupiter, belum keluar dari galaksi Bima Sakti atau Super Cluster Laniakea.

Baca Juga: Menag: Isra Mi'raj Tonggak Lahirnya Ibadah Salat Lima Waktu

“Kita tidak atau belum tahu ukuran kecepatan di atas kecepatan cahaya. Bahkan, ketika kita bisa memberikan contoh dengan si semut naik pesawat, belum bisa ‘merasionalkan’ buroq yang dikendari Rasulullah SAW,” ujar Budi.

Maka, hal yang patut dilakukan adalah mengimani peristiwa isra dan mi’raj. Intinya, peristiwa itu tidak bisa didekati dengan sains moderen jika hanya menggunakan rasio dan pancaindra, baik langsung maupun menggunakan alat canggih.

“Tapi dengan sains Islam, di mana sumber khabar shadiq merupakan salah satu sumber ilmu yang sah, peristiwa tersebut bisa masuk di dalam hati sanubari kita. Sekali lagi, kalau mata bisa melihat benda karena pancaran cahaya, mata hati pun akan melihat kebenaran dengan cahaya wahyu,” ujar Budi.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 21 Februari 2024
Imsak
04:32
Shubuh
04:42
Dhuhur
12:10
Ashar
15:19
Maghrib
18:18
Isya
19:27
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan