Kesehatan Mental Pengaruhi Pola Pikir Orang untuk Childfree
Mahmuda attar hussein
Kamis, 23 Februari 2023 - 22:35 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Childfree merupakan sebuah istilah yang merujuk kepada kesepakatan pasangan untuk tidak memiliki anak setelah menikah. Namun siapa sangka, kesehatan mental ternyata menjadi salah satu faktor yang mendorong orang memilih untuk childfree dalam rumah tangganya.
Ketua Program Studi Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Irma Safitri menyebutkan, kesehatan mental dalam childfree ini membuat setiap pasangan dalam rumah tangga merasa tidak siap secara mental untuk memiliki anak.
Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh trauma-trauma masa kecil. Seperti pernah mengalami trauma kekerasan yang membekas hingga dewasa.
Baca Juga:Memahami Kekeliruan Konsep Childfree: Manusia Bagian dari Peradaban Bukan Merusak
Pada akhirnya, hal itu membuat orang-orang takut untuk punya anak lantaran khawatir kejadian kekerasan serupa dapat terulang kembali. "Kasus seperti ini, mungkin orang-orang harus konseling dan memperbaiki hubungannya, terutama kepada orang tua," kata Irma dalam podcast di Swara NU, Kamis (23/2/2023).
Irma mengungkapkan, ada faktor lain yang menyebabkan orang memutuskan childfree. Faktor ini disebabkan oleh nilai-nilai yang dianut. "Kalau di Indonesia sendiri, faktor nilai yang dianut ini yang lebih banyak menjadikan orang untuk childfree," ujarnya.
Nilai-nilai yang dianut ini, lanjutnya, adalah anggapan atau keyakinan di mana pasangan lebih mengutamakan karier dalam hidupnya.
Ketua Program Studi Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Irma Safitri menyebutkan, kesehatan mental dalam childfree ini membuat setiap pasangan dalam rumah tangga merasa tidak siap secara mental untuk memiliki anak.
Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh trauma-trauma masa kecil. Seperti pernah mengalami trauma kekerasan yang membekas hingga dewasa.
Baca Juga:Memahami Kekeliruan Konsep Childfree: Manusia Bagian dari Peradaban Bukan Merusak
Pada akhirnya, hal itu membuat orang-orang takut untuk punya anak lantaran khawatir kejadian kekerasan serupa dapat terulang kembali. "Kasus seperti ini, mungkin orang-orang harus konseling dan memperbaiki hubungannya, terutama kepada orang tua," kata Irma dalam podcast di Swara NU, Kamis (23/2/2023).
Irma mengungkapkan, ada faktor lain yang menyebabkan orang memutuskan childfree. Faktor ini disebabkan oleh nilai-nilai yang dianut. "Kalau di Indonesia sendiri, faktor nilai yang dianut ini yang lebih banyak menjadikan orang untuk childfree," ujarnya.
Nilai-nilai yang dianut ini, lanjutnya, adalah anggapan atau keyakinan di mana pasangan lebih mengutamakan karier dalam hidupnya.