Jaga Akidah, Kemenag Diminta Komunikasi ke MUI Soal Baha'i dan Ahmadiyah
Ajeng ritzki
Jum'at, 27 Agustus 2021 - 08:56 WIB
Kantor Majelis Ulama Indonesia Pusat di Jakarta Foto: Ist
Kementerian Agama diminta menjalin komunikasi dengan Majelis Ulama Indonesia terkait agama Baha'i dan Ahmadiyah. Pernyataan itu disampaikan MUI sebagai respons lembaga tersebut menghadapi aliran-aliran keagamaan.
Keputusan itu tercantum dalam salah satu poin rekomendasi Mukernas MUI yang digelar Kamis (26/8/2021) kemarin.
"Pemerintah, khususnya Kementerian Agama RI, hendaknya berkomunikasi dan berkonsultasi dengan majelis-majelis agama yang dinilai terkait. Misalnya, untuk soal Baha'I, Syiah, Ahmadiyah pemerintah berkomunikasi dengan MUI," bunyi rekomendasi Mukernas MUI tersebut.
Komunikasi itu, lanjut MUI, dibutuhkan untuk menghindari fitnah di tengah masyarakat dan salah paham dalam beragama.
"Agar tak memancing masalah baru yang serius terutama di akar rumput dan terjadi kerawanan sosial yang tidak terkendali," menurut rekomendasi tersebut.
Agama Baha'i sempat menjadi pembicaraan di tengah masyarakat. Itu terjadi lantaran Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengucapkan selamat hari raya kepada umat Baha'i. Reaksi pro dan kontra dari elemen masyarakat bermunculan menyikapi sikap Menag.
Kemudian MUI juga mengimbau umat Islam menjaga akidahnya dari penyesatan dan pemurtadan. Potensi itu bisa terjadi karena situasi dan kondisi umat saat ini sangat rawan dengan upaya penyesatan dan pemurtadan yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Keputusan itu tercantum dalam salah satu poin rekomendasi Mukernas MUI yang digelar Kamis (26/8/2021) kemarin.
"Pemerintah, khususnya Kementerian Agama RI, hendaknya berkomunikasi dan berkonsultasi dengan majelis-majelis agama yang dinilai terkait. Misalnya, untuk soal Baha'I, Syiah, Ahmadiyah pemerintah berkomunikasi dengan MUI," bunyi rekomendasi Mukernas MUI tersebut.
Komunikasi itu, lanjut MUI, dibutuhkan untuk menghindari fitnah di tengah masyarakat dan salah paham dalam beragama.
"Agar tak memancing masalah baru yang serius terutama di akar rumput dan terjadi kerawanan sosial yang tidak terkendali," menurut rekomendasi tersebut.
Agama Baha'i sempat menjadi pembicaraan di tengah masyarakat. Itu terjadi lantaran Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengucapkan selamat hari raya kepada umat Baha'i. Reaksi pro dan kontra dari elemen masyarakat bermunculan menyikapi sikap Menag.
Kemudian MUI juga mengimbau umat Islam menjaga akidahnya dari penyesatan dan pemurtadan. Potensi itu bisa terjadi karena situasi dan kondisi umat saat ini sangat rawan dengan upaya penyesatan dan pemurtadan yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.