AI Jadi Ancaman Otoritas Keagamaan, Metode Dakwah Harus Berubah
Muhajirin
Selasa, 28 Maret 2023 - 16:00 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Generasi milenial, generasi Z, dan post-generasi Z tumbuh dalam lingkungan digital dan terhubung dengan dunia di sekitar mereka melalui media sosial dan teknologi digital.
Kehadiran teknologi digital yang pesat memberikan dampak yang signifikan pada cara generasi muda mendapatkan informasi tentang agama mereka. Namun, seringkali generasi muda tidak lagi mencari jawaban dari sosok otoritas keagamaan tetapi dari artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Kecerdasan buatan ini secara tidak langsung menjadi ancaman bagi otoritas keagamaan yang selama ini dianggap otoritatif. Meskipun teknologi digital sangat membantu dalam mengakses informasi, namun informasi dalam media digital juga bercampur dengan informasi sesat, hoak, dan lain sebagainya.
Baca Juga:Kehadiran AI Diklaim Ubah Peradaban Manusia dalam Jangka Panjang
AI yang digunakan di berbagai media sosial juga dapat mengejar untung dengan konten-konten informasi yang mengandung permusuhan, perpecahan, dan informasi yang salah, tanpa mempedulikan kemanusiaan.
Melihat kecenderungan anak-anak generasi sekarang yang lekat dengan media sosial dan media digital, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ismail Fahmi mengajak agar metode dakwah yang dilakukan mengikuti perubahan.
Ismail Fahmi menyarankan bahwa cara komunikasi, cara mencari informasi harus menjadi dasar penting bagi kita untuk berubah dalam metode dakwah. Ketika sudah memiliki target dakwah yang sudah jelas, maka metode dakwah meliputi pola dakwah, model, gaya dan pesannya harus disesuaikan dengan kecenderungan generasi milenial, generasi Z, dan post-generasi Z.
Kehadiran teknologi digital yang pesat memberikan dampak yang signifikan pada cara generasi muda mendapatkan informasi tentang agama mereka. Namun, seringkali generasi muda tidak lagi mencari jawaban dari sosok otoritas keagamaan tetapi dari artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Kecerdasan buatan ini secara tidak langsung menjadi ancaman bagi otoritas keagamaan yang selama ini dianggap otoritatif. Meskipun teknologi digital sangat membantu dalam mengakses informasi, namun informasi dalam media digital juga bercampur dengan informasi sesat, hoak, dan lain sebagainya.
Baca Juga:Kehadiran AI Diklaim Ubah Peradaban Manusia dalam Jangka Panjang
AI yang digunakan di berbagai media sosial juga dapat mengejar untung dengan konten-konten informasi yang mengandung permusuhan, perpecahan, dan informasi yang salah, tanpa mempedulikan kemanusiaan.
Melihat kecenderungan anak-anak generasi sekarang yang lekat dengan media sosial dan media digital, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ismail Fahmi mengajak agar metode dakwah yang dilakukan mengikuti perubahan.
Ismail Fahmi menyarankan bahwa cara komunikasi, cara mencari informasi harus menjadi dasar penting bagi kita untuk berubah dalam metode dakwah. Ketika sudah memiliki target dakwah yang sudah jelas, maka metode dakwah meliputi pola dakwah, model, gaya dan pesannya harus disesuaikan dengan kecenderungan generasi milenial, generasi Z, dan post-generasi Z.