LANGIT7.ID, Jakarta - Generasi milenial, generasi Z, dan post-generasi Z tumbuh dalam lingkungan digital dan terhubung dengan dunia di sekitar mereka melalui media sosial dan teknologi digital.
Kehadiran teknologi digital yang pesat memberikan dampak yang signifikan pada cara generasi muda mendapatkan informasi tentang agama mereka. Namun, seringkali generasi muda tidak lagi mencari jawaban dari sosok otoritas keagamaan tetapi dari
artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Kecerdasan buatan ini secara tidak langsung menjadi ancaman bagi otoritas keagamaan yang selama ini dianggap otoritatif. Meskipun teknologi digital sangat membantu dalam mengakses informasi, namun informasi dalam media digital juga bercampur dengan informasi sesat, hoak, dan lain sebagainya.
Baca Juga: Kehadiran AI Diklaim Ubah Peradaban Manusia dalam Jangka PanjangAI yang digunakan di berbagai media sosial juga dapat mengejar untung dengan konten-konten informasi yang mengandung permusuhan, perpecahan, dan informasi yang salah, tanpa mempedulikan kemanusiaan.
Melihat kecenderungan anak-anak generasi sekarang yang lekat dengan media sosial dan media digital, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah,
Ismail Fahmi mengajak agar metode dakwah yang dilakukan mengikuti perubahan.
Ismail Fahmi menyarankan bahwa cara komunikasi, cara mencari informasi harus menjadi dasar penting bagi kita untuk berubah dalam metode dakwah. Ketika sudah memiliki target dakwah yang sudah jelas, maka metode dakwah meliputi pola dakwah, model, gaya dan pesannya harus disesuaikan dengan kecenderungan generasi milenial, generasi Z, dan post-generasi Z.
"Cara komunikasi, cara mencari informasi inilah yang menjadi dasar penting bagi kita harus berubah dalam metode dakwah," kata Ismail Fahmi, Selasa (28/3/2023).
Baca Juga: Filsafat UGM-UNESCO Rancang Pedoman Etis Pemanfaatan AIIsmail Fahmi menjelaskan, keberadaan informasi media sosial yang dikonstruksi dalam kecerdasan buatan bisa menjadi senjata yang akan menyerang generasi muda Indonesia. Bukan secara fisik melainkan pikiran dan mentalnya yang diserang.
Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa informasi yang disajikan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menyebarkan informasi yang salah atau merugikan.
"Dalam era digital ini, dakwah tidak hanya dapat dilakukan secara konvensional, tetapi juga melalui platform digital seperti media sosial dan situs web," ujar Ismail.
Namun, lanjutnya, penting untuk memastikan bahwa
dakwah yang dilakukan melalui platform digital ini dilakukan dengan cara yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Selain itu, penting juga untuk memilih sumber informasi yang dapat dipercaya dan menghindari informasi yang salah atau merugikan.
Baca Juga: Apakah ChatGPT Bisa Menggantikan Otoritas Keagamaan?"Kesimpulannya, perkembangan teknologi digital memberikan dampak yang signifikan pada cara generasi muda mendapatkan informasi tentang agama mereka," ucapnya.
"Oleh karena itu, otoritas keagamaan perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi digital dan memastikan bahwa metode dakwah yang dilakukan dapat menjangkau generasi muda dan sesuai dengan kecenderungan mereka," lanjutnya.
Kecerdasan buatan atau AI dapat menjadi ancaman bagi otoritas keagamaan jika tidak dikelola dengan baik. Hal itu lantaran AI dapat menyebarkan informasi yang salah atau merugikan tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan.
"Di balik AI itu ada optimasi, yang dioptimalkan adalah
attentions economic atau perhatian yang diuangkan," tutur Ismail.
Baca Juga: Bolehkah Belajar Islam Lewat Artificial Intelligence?(gar)