LANGIT7.ID - , Jakarta - Kemunculan chatbot berbasis
artificial intelligence atau AI seperti
ChatGPT menjadi tantangan baru bagi
otoritas keagamaan. Chatbot AI yang terlatih bisa menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan masalah agama.
ChatGPT yang dikembangkan OpenAI bahkan bisa menjawab pertanyaan dengan luwes seperti sedang mengobrol dengan menyertakan rujukan yang diperlukan. Ini berbeda dengan cara kerja Google yang hanya mengindeks website berdasarkan algoritma dan kata kunci tertentu.
Baca juga: ChatGPT Versi Microsoft Temperamen, Gaslighting hingga Playing VictimPendiri
Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia Ismail Fahmi menjajal sejauh mana akurasi Chat GPT menjawab pertanyaan keagamaan. Dia mengatakan, model kerja ChatGPT adalah dengan memberikan penjelasan dari sumber yang di-index berdasarkan konteksnya.
Jika sumbernya berisi arahan dari individu berpengaruh, maka penjelasannya juga berisi arahan bagi pengguna. Lewat Twitter-nya, Ismail membagikan hasil percakapan dengan ChatGPT tentang hukum membaca
Surat Yasin berdasarkan pendapat
Imam Nawawi.
ChatGPT memberikan uraian: Imam Nawawi dalam kitabnya "Riyadhus Shalihin" menyebutkan hadis tentang keutamaan membaca Surah Yasin di hadapan mayit sebelum dimandikan. Beliau menyatakan bahwa hadis tersebut memiliki sanad yang dhaif (lemah) dan tidak dapat dijadikan dasar hukum dalam Islam.
Baca juga: 5 Manfaat ChatGPT: Bisa Tingkatkan Produktivitas KerjaImam Nawawi juga menyebutkan pendapat ulama bahwa membaca Surah Yasin di hadapan mayit sebelum mayat dimandikan adalah merupakan perkara bid'ah (inovasi) dalam agama Islam.
Menurut beliau, tindakan ini tidak disunnahkan dalam agama Islam, karena tidak terdapat riwayat yang shahih atau benar yang menunjukkan hal tersebut.
Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak mempraktikkan tindakan-tindakan yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam, termasuk membaca Surah Yasin di hadapan mayit sebelum dimandikan.
Lebih baik kita memperbanyak doa dan amalan lain yang dianjurkan dalam agama Islam untuk mayit, seperti membaca Al-Qur'an, salat jenazah, dan bersedekah atas nama mayit.
Ismail Fahmi menjelaskan, pada paragraf terakhir percakapan tersebut, ChatGPT memberi "arahan" agar tidak mempraktikkan, berdasarkan penjelasan dari Imam Nawawi dari kitabnya.
Menurutnya, arahan ChatGPT kemungkinan besar akan selaras bila kita bertanya pada ustadz yang menggunakan referensi kitab yang sama.
Baca juga: Teknologi AI ChatGPT Diklaim Permudah Urusan Kerja Manusia“Di sini saya melihat, lama-lama bisa semakin bergeser, fungsi AI dari sebagai tool menjadi "otoritas". Bisa bahaya ini,” kata Ismail.
Namun, lanjut Ismail dalam percakapan selanjutnya tentang “Apakah AI seperti kamu bisa menggantikan otoritas keagamaan?”, ChatGPT menyatakan dengan “rendah hati” bahwa ia hanyalah sebatas informan.
“Tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan pandangan atau keputusan independen, dan saya tidak memiliki otoritas keagamaan yang sebanding dengan para pemimpin spiritual atau lembaga keagamaan,” jawab ChatGPT.
(est)