LANGIT7.ID - , Jakarta - Anggota Majelis Pustaka, Informasi, dan Digital PP Muhammadiyah
Ismail Fahmi memandang
Muhammadiyah perlu memberi perhatian pada AI untuk keperluan dakwah. Banyak hal yang dapat dielaborasi oleh ChatGPT, termasuk yang berkaitan dengan masalah keagamaan.
Ismail mengatakan banyak santri bisa mencari bacaan mengenai hal-hal yang berkenaan dengan agama kepada
ChatGPT. Di samping itu, para ustadz pun dapat mencari ide ceramah dengan memanfaatkan ChatGPT.
Baca juga: Teknologi AI ChatGPT Diklaim Permudah Urusan Kerja ManusiaMeski demikian pengguna juga harus cerdas memberikan pertanyaan. Jawaban dari ChatGPT sangat bergantung pada pertanyaan, cara bertanya, dan konteks pertanyaan yang diajukan oleh pengguna.
"Dengan demikian, diperlukan edukasi kepada pengguna. Jawabannya juga tergantung dari kelengkapan informasi dalam database," ujar Ismail dikutip dari keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Ahad (19/2/2023) dilansir Antara.
Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam Kajian Rutin Bulanan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Bintaro bertajuk "Artificial Intelligence dan Pergeseran Otoritas Keagamaan dari Manusia ke Mesin", di Tangerang Selatan, Banten, Ahad kemarin.
Baca juga: Makalah Mahasiswa Terlalu Bagus, Ternyata Pakai ChatGPT
Ismail mencontohkan bagaimana ChatGPT membantu ustadz membuat teks ceramah singkat untuk Ramadhan atau “
Kultum”. Pengguna bisa memberikan perintah kepada
chatbot dengan pertanyaan yang bersifat umum.
“Kalau perintahnya sederhana, ChatGPT akan bikin teks yang sederhana,” kata Ismail.
Baca juga: Cegah Siswa Nyontek, Sekolah di New York Blokir ChatGPTNamun demikian, penjelasan yang sederhana tidak cukup untuk sebuah kultum yang berisi “daging”. Jadi, sang ustadz harus memberi perintah atau pertanyaan yang lebih presisi misalnya meminta referensi dari Quran, Hadist, tokoh ilmuwan muslim, dll.
“Karena saya kultumnya di depan para pimpinan Muhammadiyah, saya lebih presisi, minta agar soal etika ini dielaborasi, agar dapat ide langkah riil bagi Muhammadiyah. Keluar list gagasan yang bisa dielaborasi,” urai Ismail.
Bila jawaban dirasa kurang memuaskan, pengguna dapat melanjutkan percakapan dengan memberi perintah yang lebih spesifik atau mengelaborasi jawaban yang sudah ada. Eksplorasi dengan
precision questioning ataupun
precision instruction (prompt) ini bisa dilakukan tanpa henti.
Baca juga: Drone Emprit: ChatGPT Perlu Suplai Referensi agar Akurat Jawab Masalah Agama(est)