LANGIT7.ID, Jakarta - Kemunculan ChatGPT dirayakan para pengguna
internet karena dinilai mampu membantu menjawab berbagai persoalan. ChatGPT juga bisa dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran.
Namun, alih-alih sebagai sarana penunjang, ternyata ada
mahasiswa yang menggunakan ChatGPT untuk menyusun sebagian besar makalah. Antony Aumann, seorang profesor filsafat di Northern Michigan University, memergoki seorang mahasiswa menggunakan ChatGPT.
Dia curiga karena makalah yang ditulis terlalu koheren dan terstruktur dengan baik. Saat itu, Auman memberikan tugas kepada mahasiswanya untuk menulis tentang larangan burqa.
Baca Juga: Peneliti Jerman Kagumi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren"Saya meminta mereka menulis ulang makalah itu. Itulah yang hampir selalu saya lakukan dalam kasus plagiarisme," kata Aumann dilansir dari
Futurism, Sabtu (21/1/2023).
Aumann mengatakan, mahasiswa yang menggunakan ChatGPT tidak akan menghadapi konsekuensi yang lebih serius, kecuali bila mereka mengulang tindakannya. Menurutnya, mahasiswa yang mengandalkan ChatGPT tidak akan bisa belajar dengan baik.
"Saya ingin siswa benar-benar mempelajari materi. Satu-satunya cara mereka dapat melakukannya adalah dengan benar-benar menyelesaikan tugas," ujar Aumann.
ChatGPT dinilai akan membawa dampak besar bagi dunia pendidikan, baik yang negatif maupun positif. Guna menghindari kebiasaan mencontek, sistem sekolah umum New York City dan Seattle telah melarang ChatGPT secara langsung di jaringan dan perangkat sendiri.
Baca Juga: Tantangan Kampus Islam Integrasikan Agama dan Sains"Saya pikir sentimen di balik larangan itu masuk akal. Mereka ingin memastikan bahwa siswa mereka mempelajari keterampilan berpikir kritis yang merupakan bagian dari belajar menulis," ucap Aumann.
Hanya saja, universitas tidak mungkin memblokir ChatGPT, apalagi mudah bagi mahasiswa untuk mengakalinya. Bahkan, alat pendeteksi plagiarisme tidak akan berguna di hadapan ChatGPT.
Meski demikian, mahasiswa patut merenungi masa depan pendidikannya. Tantangan saat lulus kuliah lebih berat daripada di kampus di mana ChatGPT bisa jadi tidak membantu sama sekali.
"Apakah ini berarti akan ada kebijakan tambal sulam di berbagai kelas dan departemen di setiap universitas? Sama sekali. Tapi, dalam arti tertentu, itu hanya kehidupan di dunia akademis," tutur Aumann.
Baca Juga:
Bacaan Doa sebelum Belajar, Amalkan dan Rasakan Manfaatnya
Dibuka Tahun Ini, Berikut Syarat Daftar Beasiswa Fulbright(gar)