LANGIT7.ID, Jakarta - Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kian mengalami perkembangan pesat. Muncul ChatGPT yang bisa menjawab segala pertanyaan yang diajukan, termasuk seputar agama. Namun, apakah seorang muslim bisa belajar Islam dari
platform chatbot berbasis kecerdasan buatan (
artificial intelligence)?
Pendiri Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat menjelaskan, ChatGPT tidak bisa dijadikan rujukan utama dalam belajar Islam. Hal itu dikarenakan ChatGPT tidak memberikan sumber otoritatif saat memberikan jawaban. Itu menyalahi unsur ilmiah dalam bidang keilmuan.
Baca Juga: AI Makin Canggih, Muncul ChatGPT yang Bisa Jawab Persoalan Agama
“Bisa enggak kemampuan-kemampuan yang bersifat artifisial kecerdasan itu dijadikan sebagai alat untuk belajar agama Islam? jawabannya antara ia dan tidak. Bisa dikatakan sebagai pembantu,” kata Ustaz Sarwat dalam tausiahnya di Majelis Telkomsel Taqwa, dikutip Rabu (15/2/2023).
Meski bisa membantu, tapi ChatGPT tidak bisa berperan sebagai rujukan utama dalam belajar Islam. Ini karena jawaban yang disadurkan tidak bersumber dari sumber-sumber yang otoritatif. “Sumber otoritatif ini kan problem kita hari ini. Otoritatif apa tidak, itu jadi masalahnya,” ucap Ustaz Sarwat.
Ilmu Islam memiliki banyak cabang atau versi. Ada bidang tafsir, fikih, hadits, sejarah, hingga ilmu-ilmu sains. ChatGPT memberikan jawaban secara cepat, hanya dalam hitungan detik. Tapi, ia tidak menyertakan sumber otoritatif, sehingga tidak teruji secara ilmiah.
Baca Juga: Drone Emprit: ChatGPT Perlu Suplai Referensi agar Akurat Jawab Masalah Agama
Sumber otoritatif adalah buku-buku atau pendapat ulama-ulama yang ahli di bidangnya. Misalnya, ada Buya Hamka di Indonesia sebagai sumber otoritatif dalam ilmu tafsir. Ada pula tokoh-tokoh lain yang bisa dijadikan rujukan.
“Bisa enggak disertakan dengan rujukan dari sumber-sumber yang otoritatif sesuai dengan bidang ilmu itu? bisa enggak gitu? Nah kalau enggak bisa, itulah yang jadi masalahnya. Apakah
artificial intellegence ini bisa dijadikan sebagai sumber? kalau sekedar bisa, bisa tapi dia harus dipasangkan dengan orang yang juga ahli,” ujar Ustaz Sarwat.
Ustaz Sarwat mencontohkan artikel-artikel yang dimuat di laman google. Artikel di bebragai website selalu menyertakan sumber seperti judul buku dan penulis. Artikel-artikel semacam itu bisa dijadikan rujukan.
Baca Juga: Polemik ChatGPT, Antara Meringankan dan Menggantikan Pekerjaan Manusia
Berbeda dengan ChatGPT yang hanya terlihat pintar. Bisa menjawab dengan cepat. Tapi, tidak ada satupun sumber yang disertakan, sehingga tidak ada sumber otoritatif untuk mendukung keabsahan ilmiahnya.
“Yang GPT ini pak yang menjadi dia tuh kelihatannya pintar, tapi masih terhitung bodoh, sehingga kalau ada masalah agama, apalagi rujukan-rujukan yang otoritatif, ya memang dia masih bermasalah,” pungkas Ustaz Sarwat.
(jqf)