LANGIT7.ID, Jakarta - Pendiri platform analisis media sosial Drone Emprit,
Ismail Fahmi, menyambut positif hadirnya kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI) berupa
chatbot bernama ChatGPT yang dikembangkan
OpenAI.
ChatGPT tengah ramai menjadi perbincangan publik karena bisa menjawab berbagai pertanyaan rumit, mulai dari perencanaan
marketing, esai tulisan,
itinerary perjalanan, masalah filosofis hingga menjawab pertanyaan seputar agama.
Baca Juga: Betulkah Pekerjaan Manusia Bakal Digantikan AI? Ini Jawaban CEO WIR Group
“Itu adalah pengembangan AI oleh tim yang sudah
advance banget. Saya pribadi surprise. Sebetulnya saat master Ph.D itu juga riset tentang bagaimana membuat AI yang bisa menjawab pertanyaan manusia. Waktu itu saya menggunakan untuk domain kesehatan saja. Progresnya waktu pas 2004-2005 itu belum sejauh ini,” kata Ismail Fahmi kepada
Langit7.id, Senin (5/12/2022).
ChatGPT merupakan robot AI yang dapat mengobrol dengan manusia menggunakan kata yang sangat runtut dan kontekstual.
ChatGPT ini menjadi salah satu inovasi OpenAI, sebuah lembaga riset berbasis di San Francisco, Amerika Serikat, yang sekarang dalam tahap uji coba publik.
OpenAI merupakan perusahaan riset yang
bergerak di bidang pengembangan kecerdasan buatan. Dua produk dari perusahaan ini adalah DALL-E dan GPT. DALL-E adalah AI yang bisa menghasilkan gambar atau lukisan dari sepotong kalimat, sementara GPT merupakan AI pembuat teks.
Baca Juga: Apa Itu Chatbot dan Efeknya bagi Bisnis Perusahaan?
GPT memungkinkan AI membuatkan teks, mulai dari puisi, artikel, tutorial, hingga caption media sosial hingga pengetahuan umum dari sepotong pernyataan atau prompt. Produk hasil pengembangan GPT 3.0 ini tidak hanya menghasilkan naskah dari sepotong
prompt, tapi melanjutkan informasi sebagai percakapan dengan pengguna.
Ismail Fahmi sendiri sempat menanyakan sejumlah pertanyaan seputar agama yang cukup rumit kepada
ChatGPT. Diantaranya tentang cara salat ketika seseorang berada di Mars, cara berwudhu ketika berada di kutub utara hingga hukum merokok dalam Islam.
“Nah ini, si mesinnya sudah sangat pintar. Sudah berkali-kali lipat lebih
advance dibanding pada saat saya dulu (2004-2005).
State of the art itu sudah sangat jauh berkembang. Makanya, ketika saya coba-coba, buat saya OpenAI ini akan mengubah dunia AI, robotika, kecerdasan buatan ke depan,” terang Ismail Fahmi.
(jqf)