home sosok muslim

Meneladani Kecerdasan Literasi Hamka, Menulis Novel Best Seller di Usia 20 Tahun

Rabu, 01 September 2021 - 00:00 WIB
Di antara buku-buku karya Buya Hamka (foto: istimewa)
Pendiri Sekolah Pemikiran Islam, Akmal Sjafril, membeberkan satu masalah krusial yang menurunkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Masalah tersebut adalah budaya literasi di Indonesia yang sangat rendah.

Berdasarkan survey Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia menempati ranking ke-62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi pada 2019. Padahal pada 2016, Indonesia masih menempati ranking ke-61.

Kondisi saat ini jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia di era perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Para pejuang adalah pembaca hebat dan penulis-penulis hebat. Akmal mencontohkan sosok Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka.

Baca Juga:Rocky Gerung: Hamka adalah Simbol Moral yang Tepat untuk Mengevaluasi Bangsa

Buya Hamka pada umur 20 tahun menerbitkan buku novel pertamanya berjudul Si Sabaria. Pundi-pundi rupiah dari penjualan buku itu bahkan menjadi modal pernikahan beliau saat berumur 21 tahun. Tak hanya itu, buku Hamka berjudul Pribadi dicetak pada pertama kali pada 1950.

Pada masa itu, Indonesia baru saja mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda setelah Konferensi Meja Bundar (KMB). Artinya, kondisi tak seaman sekarang. Akses untuk mendapatkan buku pun tak semudah saat ini.

“Pada tahun 1963, buku itu sudah memasuki cetakan ketujuh, dan terjual 10 ribu eksemplar. Ini tahun 50 loh, Indonesia baru merdeka. Artinya, dari situ kalau kita ingin berhenti sebentar, kita bisa melihat betapa budaya literasi kita sangat bagus sekali,” kata Akmal dalam webinar yang digelar Sudin Pusip Jakarta Utara, Selasa (31/8/2021).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
buya hamka intelektual muhammadiyah jejak ulama
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya