Membangun Kesuksesan Komunikasi Keluarga ala Nabi Ibrahim
Ahmad zuhdi
Kamis, 02 September 2021 - 06:15 WIB
Ilustrasi keluarga di padang pasir (foto: langit7.id/istock)
Persoalan keluarga adalah persoalan yang wajib diselesaikan. Ia dapat menimpa siapapun, tidak memandang gelar, latar belakang kehidupan, dan strata sosialnya. Sehingga wajar dalam kehidupan rumah tangga, persoalan bisa datang dari siapapun, baik itu suami, istri, anak, menantu, maupun mertua.
Pakar parenting, Ustadz Jejen Jaenudin menyampaikan bahwa inti dari keluarga adalah bagaimana membangun sakinah (litaskunu ilaiha) atau ketenangan dan kebahagiaan dalam rumah tangga. Kalau urusan jodoh dalam surat Ar-Rum memang sudah menjadi guratan takdir setiap orang, namun litaskunu, kata Ustadz Jejen adalah sebuah upaya dan ikhtiar yang harus dimaksimalkan.
"Jadi sakinah adalah bagaimana tergantung kita. Dikarenakan tergantung kita, maka ada orang yang berhasil dan ada juga yang gagal, kita pun nggak bisa mengklaim 'dia gagal dalam rumah tangga', karena sulit membangun dua insan yang berbeda," ujar Ustadz Jejen dalam kajian virtual melalui akun Youtube Persis TV, dikutip Rabu (1/9/2021).
Sebagai umat muslim, kita memiliki referensi yang baik dalam membangun rumah tangga, yaitu Nabi Ibrahim AS, bagaimana Nabi Ibrahim AS berhasil membangun rumah tangga dengan komunikasi.
Menurut Ustadz Jejen, kunci keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam sebuah rumah tangga tergantung dari komunikasi. Termasuk keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya tergantung dari komunikasi.
"Nah Nabi Ibrahim alaihissalam dalam Al-Qur'an kurang lebih 52 kali disebut, salah satu yang populer bagaimana ketika Allah menyebut Nabi Ibrahim sebagai uswatun hasanah. Salah satu uswahnya adalah beliau berhasil membangun komunikasi kepada ayahnya yang merupakan produsen patung dan berbuat musyrik, beliau berkomunikasi tanpa menyakiti perasaannya," tuturnya.
Kemudian ketika Nabi Ibrahim berkomunikasi dengan istrinya yang baru saja melahirkan dan bayinya masih memerah, di mana Ibrahim harus pergi meninggalkan ke tempat yang tujuannya saja belum pasti. Disebabkan Sarah ikhlas dalam ketaatan dan kesabaran, akhirnya di padang gurun tersebut air ditemukan dan Ismail yang masih bayi bisa diselamatkan.
Pakar parenting, Ustadz Jejen Jaenudin menyampaikan bahwa inti dari keluarga adalah bagaimana membangun sakinah (litaskunu ilaiha) atau ketenangan dan kebahagiaan dalam rumah tangga. Kalau urusan jodoh dalam surat Ar-Rum memang sudah menjadi guratan takdir setiap orang, namun litaskunu, kata Ustadz Jejen adalah sebuah upaya dan ikhtiar yang harus dimaksimalkan.
"Jadi sakinah adalah bagaimana tergantung kita. Dikarenakan tergantung kita, maka ada orang yang berhasil dan ada juga yang gagal, kita pun nggak bisa mengklaim 'dia gagal dalam rumah tangga', karena sulit membangun dua insan yang berbeda," ujar Ustadz Jejen dalam kajian virtual melalui akun Youtube Persis TV, dikutip Rabu (1/9/2021).
Sebagai umat muslim, kita memiliki referensi yang baik dalam membangun rumah tangga, yaitu Nabi Ibrahim AS, bagaimana Nabi Ibrahim AS berhasil membangun rumah tangga dengan komunikasi.
Menurut Ustadz Jejen, kunci keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam sebuah rumah tangga tergantung dari komunikasi. Termasuk keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya tergantung dari komunikasi.
"Nah Nabi Ibrahim alaihissalam dalam Al-Qur'an kurang lebih 52 kali disebut, salah satu yang populer bagaimana ketika Allah menyebut Nabi Ibrahim sebagai uswatun hasanah. Salah satu uswahnya adalah beliau berhasil membangun komunikasi kepada ayahnya yang merupakan produsen patung dan berbuat musyrik, beliau berkomunikasi tanpa menyakiti perasaannya," tuturnya.
Kemudian ketika Nabi Ibrahim berkomunikasi dengan istrinya yang baru saja melahirkan dan bayinya masih memerah, di mana Ibrahim harus pergi meninggalkan ke tempat yang tujuannya saja belum pasti. Disebabkan Sarah ikhlas dalam ketaatan dan kesabaran, akhirnya di padang gurun tersebut air ditemukan dan Ismail yang masih bayi bisa diselamatkan.