LANGIT7.ID, Jakarta - Persoalan keluarga adalah persoalan yang wajib diselesaikan. Ia dapat menimpa siapapun, tidak memandang gelar, latar belakang kehidupan, dan strata sosialnya. Sehingga wajar dalam kehidupan rumah tangga, persoalan bisa datang dari siapapun, baik itu suami, istri, anak, menantu, maupun mertua.
Pakar parenting, Ustadz Jejen Jaenudin menyampaikan bahwa inti dari keluarga adalah bagaimana membangun sakinah (
litaskunu ilaiha) atau ketenangan dan kebahagiaan dalam rumah tangga. Kalau urusan jodoh dalam surat Ar-Rum memang sudah menjadi guratan takdir setiap orang, namun
litaskunu, kata Ustadz Jejen adalah sebuah upaya dan ikhtiar yang harus dimaksimalkan.
"Jadi sakinah adalah bagaimana tergantung kita. Dikarenakan tergantung kita, maka ada orang yang berhasil dan ada juga yang gagal, kita pun nggak bisa mengklaim 'dia gagal dalam rumah tangga', karena sulit membangun dua insan yang berbeda," ujar Ustadz Jejen dalam kajian virtual melalui akun Youtube Persis TV, dikutip Rabu (1/9/2021).
Sebagai umat muslim, kita memiliki referensi yang baik dalam membangun rumah tangga, yaitu Nabi Ibrahim AS, bagaimana Nabi Ibrahim AS berhasil membangun rumah tangga dengan komunikasi.
Menurut Ustadz Jejen, kunci keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam sebuah rumah tangga tergantung dari komunikasi. Termasuk keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya tergantung dari komunikasi.
"Nah Nabi Ibrahim
alaihissalam dalam Al-Qur'an kurang lebih 52 kali disebut, salah satu yang populer bagaimana ketika Allah menyebut Nabi Ibrahim sebagai
uswatun hasanah. Salah satu uswahnya adalah beliau berhasil membangun komunikasi kepada ayahnya yang merupakan produsen patung dan berbuat musyrik, beliau berkomunikasi tanpa menyakiti perasaannya," tuturnya.
Kemudian ketika Nabi Ibrahim berkomunikasi dengan istrinya yang baru saja melahirkan dan bayinya masih memerah, di mana Ibrahim harus pergi meninggalkan ke tempat yang tujuannya saja belum pasti. Disebabkan Sarah ikhlas dalam ketaatan dan kesabaran, akhirnya di padang gurun tersebut air ditemukan dan Ismail yang masih bayi bisa diselamatkan.
"Malah oleh Allah, disana diberikan keberkahan dengan munculnya air zam-zam. Kemudian ketika Nabi Ibrahim lama tidak bertemu dengan putranya Ismail, ketika bertemu mendapat perintah untuk disembelih, Nabi Ibrahim memulai dengan mengajak dialog," ucapnya.
Nabi Ibrahim memulai dialog dengan mengatakan "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." Ismail yang masih belia menjawab dengan penuh kesalehan dan keikhlasan.
Gayung bersambut, pesan tersampaikan dengan baik, dan Ismail mengetahui bahwa mimpi ayahnya merupakan wahyu, Ismail menyanggupinya dengan mengatakan "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.". "Allah pun memberikan berkah kepada Ibrahim dengan tidak jadi menyembelih (Ismail) dan Ibrahim ditunjuki jalan yang lurus," ujar Guru SMK Persis Bandung ini.
(jqf)