home edukasi & pesantren

Dari Buku Prof.Dr. Abdul Mu'ti; Menjadi Manusia Bertakwa (Seri 12)

Senin, 01 April 2024 - 05:27 WIB
Dari Buku Prof.Dr. Abdul Mu'ti Menjadi Manusia Bertakwa (Seri 12)

LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di antara ciri manusia yang bertakwa adalah banyak berderma. Di dalam surah Ali Imran [3]: 134 disebutkan bahwa manusia bertakwa adalah mereka yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit.

الَّذِينَ يُنْفِقُوْنَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Manusia yang bertakwa yaitu orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.(Qs. Ali Imran [3]: 134.

Ada tiga istilah di dalam Alquran yang pada umumnya dikaitkan dengan kedermawanan atau filantrofi Islam yaitu zakat, infak, dan sedekah. Dalam pengertian fikih, ketiga istilah tersebut memiliki titik tekan dan pengertian yang berbeda.

Zakat adalah rukun Islam yang diwajibkan bagi mereka yang memi- liki jenis harta tertentu yang dalam jumlah tertentu (nishab), waktu tertentu (haul) diberikan kepada penerima tertentu (mustahik).

Hal demikian tidak berlaku untuk infak. Infak dapat diberikan kapan saja, dalam jumlah berapa saja, kepada siapa saja. Sedangkan sedekah, mengandung pengertian yang lebih luas. Semua jenis pemberian baik materi maupun non materi. Di dalam Hadis disebutkan bahwa menyingkirkan duri adalah sedekah.

Walaupun demikian, di dalam Alquran tiga istilah tersebut terkadang dipergunakan secara silih berganti (interchange). Kata "shadaqat" di dalam surah at-Taubah [9]: 60 berarti zakat yang penerima (ashnaf) sudah tertentu.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
abdul mu’ti bedah buku
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya