Dari Buku Prof.Dr. Abdul Mu'ti; Menjadi Manusia Bertakwa (Seri 17)
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di antara ciri manusia yang bertakwa adalah mampu menahan amarah. Mereka selalu berusaha untuk mengendalikan emosi dan tidak mudah terpancing oleh provokasi. Mereka menyadari pentingnya menjaga kedamaian dan keharmonisan merupakan bukti dari ketakwaan mereka kepada Allah Swt.
Di dalam surah Ali Imran [3]: 134 disebutkan:
الَّذِينَ يُنْفِقُوْنَ فِي السَّراءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكُظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Qs. Ali Imran [3]:134)
Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan yang dimaksud dengan menahan amarah adalah menutupi dan tidak melampiaskan amarah. Ibnu Katsir mengutip Hadis yang diri wayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah r.a. sebagai berikut:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ وَلَكِنَّ الشَّدِيدُ الَّذِي يُمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Orang yang kuat itu bukan terletak pada kemampuan berkelahi, tetapi orang yang datang mengen- dalikan diri ketika sedang marah.