Pakar Psikologi Unair: Generasi Z Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental
Tim langit 7
Selasa, 30 April 2024 - 06:00 WIB
ilustrasi
Generasi Z lahir dengan kemajuan teknologi yang pesat. Kondisi tersebut menyebabkan generasi ini dinilai memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah sehingga rentan alami gangguan kesehatan mental.
Pakar psikologi dan perkembangan anak Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Nurul Hartini SPsi MKes Psikolog memberikan sorotan. Menurutnya, salah satu penyebab gen Z memiliki tingkat kebahagiaan rendah karena penggunaan sosial media kurang tepat.
Prof Nurul mengatakan, keberadaan sosial media tak dapat dipungkiri memudahkan kehidupan para generasi Z. Namun, dalam penggunaannya harus mendapat perhatian khusus agar sosial media menjadi platform tepat guna.
“Sebetulnya, hadirnya media sosial ini memiliki dua mata sisi. Yakni, dapat berdampak positif jika dapat menggunakannya dengan bijak dan dapat berdampak negatif jika keliru dalam penggunaannya,” imbuhnya.
Baca juga:Cerita Santri Kembar Lolos SNBP Unair: Tak Putus Berdoa, Ridha Ibu dan Guru
Dia menerangkan, fenomena tersebut tidak terjadi dengan rentang waktu yang singkat, namun terbentuk karena proses yang cukup panjang. Orang tua dan keluarga memiliki peranan besar membangun lingkungan yang positif sedari dini.
Ia menambahkan, para orang tua harus menerapkan pola asuh yang tepat dan sehat ditengah era digitalisasi. Salah satunya, dengan memberikan pengenalan dan pengawasan sedari dini yang tepat dalam penggunaan sosial media. Anak-anak yang lepas dari kontrol orang tua akan rentan terpengaruh hal negatif di sosial media.
Pakar psikologi dan perkembangan anak Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Nurul Hartini SPsi MKes Psikolog memberikan sorotan. Menurutnya, salah satu penyebab gen Z memiliki tingkat kebahagiaan rendah karena penggunaan sosial media kurang tepat.
Prof Nurul mengatakan, keberadaan sosial media tak dapat dipungkiri memudahkan kehidupan para generasi Z. Namun, dalam penggunaannya harus mendapat perhatian khusus agar sosial media menjadi platform tepat guna.
“Sebetulnya, hadirnya media sosial ini memiliki dua mata sisi. Yakni, dapat berdampak positif jika dapat menggunakannya dengan bijak dan dapat berdampak negatif jika keliru dalam penggunaannya,” imbuhnya.
Baca juga:Cerita Santri Kembar Lolos SNBP Unair: Tak Putus Berdoa, Ridha Ibu dan Guru
Dia menerangkan, fenomena tersebut tidak terjadi dengan rentang waktu yang singkat, namun terbentuk karena proses yang cukup panjang. Orang tua dan keluarga memiliki peranan besar membangun lingkungan yang positif sedari dini.
Ia menambahkan, para orang tua harus menerapkan pola asuh yang tepat dan sehat ditengah era digitalisasi. Salah satunya, dengan memberikan pengenalan dan pengawasan sedari dini yang tepat dalam penggunaan sosial media. Anak-anak yang lepas dari kontrol orang tua akan rentan terpengaruh hal negatif di sosial media.