Waspadalah Sex Grooming dan Modusnya, Jangan Jadi Korban
Tim langit 7
Selasa, 30 April 2024 - 12:00 WIB
ilustrasi
Kekerasan seksual semakin beragam modusnya. Ada yang terjadi secara daring, ada juga dalam bentuk sex grooming melalui media sosial. Masyarakat diminta untuk waspada dan mengenali modus ini.
Menurut dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Nanda Audi, S.Psi. M.Psi., secara definisi, istilah sex atau sexual grooming mengacu pada iming-iming yang dilakukan pelaku kekerasan seksual untuk mendapatkan kepercayaan dan kontrol atas korban.
Prosesnya sendiri dikemas secara manipulatif dalam menjebak korban khususnya yang berkaitan aktivitas seksual. "Biasanya istilah sex grooming awalnya dialami oleh anak di bawah umur saja, karena kurang mengerti bahaya kekerasan seksual, tetapi juga ada korban dari kalangan mahasiswa," ucap psikolog Unesa ini.
Baca juga:Pakar Psikologi Unair: Generasi Z Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental
Nanda menyebut strategi yang sering ditemukan berawal dari media sosial khususnya aplikasi dating atau kencan. Pelaku biasanya menggunakan media sosial dan komunikasi online untuk mendekati korban, menciptakan kesan keamanan, dan secara bertahap mengarahkan korban ke situasi yang lebih rentan.
Sederhananya, pelaku akan merencanakan strategi untuk mempersiapkan, membangun hubungan, dan memanipulasi korban dengan tujuan akhir mengeksploitasi mereka secara seksual.
Strategi pelaku biasanya melalui perhatian khusus kepada korban, memberikan hadiah, menyediakan dukungan emosional, dan mengidentifikasi dan memanfaatkan kerentanan korban.
Menurut dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Nanda Audi, S.Psi. M.Psi., secara definisi, istilah sex atau sexual grooming mengacu pada iming-iming yang dilakukan pelaku kekerasan seksual untuk mendapatkan kepercayaan dan kontrol atas korban.
Prosesnya sendiri dikemas secara manipulatif dalam menjebak korban khususnya yang berkaitan aktivitas seksual. "Biasanya istilah sex grooming awalnya dialami oleh anak di bawah umur saja, karena kurang mengerti bahaya kekerasan seksual, tetapi juga ada korban dari kalangan mahasiswa," ucap psikolog Unesa ini.
Baca juga:Pakar Psikologi Unair: Generasi Z Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental
Nanda menyebut strategi yang sering ditemukan berawal dari media sosial khususnya aplikasi dating atau kencan. Pelaku biasanya menggunakan media sosial dan komunikasi online untuk mendekati korban, menciptakan kesan keamanan, dan secara bertahap mengarahkan korban ke situasi yang lebih rentan.
Sederhananya, pelaku akan merencanakan strategi untuk mempersiapkan, membangun hubungan, dan memanipulasi korban dengan tujuan akhir mengeksploitasi mereka secara seksual.
Strategi pelaku biasanya melalui perhatian khusus kepada korban, memberikan hadiah, menyediakan dukungan emosional, dan mengidentifikasi dan memanfaatkan kerentanan korban.