LANGIT7.ID-, Jakarta- - Berhati-hati apabila menerima undangan pernikahan digital melalui pesan WhatsApp, terutama jika Anda tidak mengenal nomor si pengirim dan undangan dalam bentuk file .APK. Bisa dipastikan itu adalah penipuan.
Penipuan dan pencurian saat ini merambah ke sistem digital, mengikuti perkembangan teknologi. Salah satu yang marak saat ini adalah para pelaku mencari dan menjerat korban yang merupakan para pengguna WhatsApp.
Berbagai cara dilakukan untuk mencuri data pribadi, jika sudah didapat maka dengen mudah pelaku bakal menguras isi rekening korban. Misalnya saja dengan mengirimkan file .APK dan biasanya ini dikemas dengan undangan digital seperti undangan pernikahan.
Salah satu yang hampir saja terkena modus penipuan dengan undangan digital yaitu Yusnita (41). Wanita yang bekerja sebagai karyawan swasta ini mengaku pernah hampir menjadi korban penipuan.
Baca juga:
Siswa MINU Pucang Sidoarjo Raih Medali Perak Olimpiade Matematika di MalaysiaSuatu hari ia mendapat pesan WhatsApp, tertulis “Undangan-Pernikahan” dengan format file .APK. Meski ia mengaku sempat ragu untuk membuka, namun rasa penasaran membuat ia akhirnya membuka file tersebut.
“Setelah meng-klik ‘undangan’ itu, terus muncul izin lokasi, selanjutnya muncul izin akses. Dari situ saya baru sadar ini penipuan. Langsung saya coba klik ‘back’ berkali-kali tapi tidak bisa. Sampe akhirnya layar berubah warna biru dan ada tulisan, saya lupa tulisan apa,” ungkap wanita yang akrab disapa Uci ini.
Kemudian, ia pun segera melakukan tindakan preventif dengan mengganti password mobile banking dan juga password semua media sosial.
Begitu banyak cara pelaku penipuan dan pemerasan melancarkan aksinya. Selain melalui undangan digital palsu, cara lain yaitu menjebak dengan mengajak si calon korban untuk melakukan video call sex (VCS).
Dari berbagai sumber yang dirangkum, berikut ini modus penipuan online yang marak terjadi melalui WhatsApp:
1. File Undangan Nikah
Seperti disebutkan di atas. File apk ini berjudul Surat Undangan Pernikahan Digital dengan ukuran 6,6 mb. Biasanya pelaku akan mendesak calon korban untuk membuka tautan tersebut.
2. Surat Tilang Palsu
Banyak pengguna WhatsApp yang juga menerima file apk seolah telah ditilang. File apk itu berjudul 'Surat Tilang-1.0 apk'.
Disarankan Anda tidak mengklik atau mengunduh file tersebut apalagi dari orang yang Anda tidak kenal. Ingat lagi-lagi pelaku menggunakan file .apk
3. Modus Kurir
Penipuan ini berisi pengakuan seseorang berasal dari J&T. Penipu mengirimkan lampiran file apk dengan tulisan “Lihat Foto Paket” dan meminta para korban untuk mengunduhnya.
Saat diunduh, korban akan kehilangan uang yang disimpan bank. Data milik korban, termasuk keuangan juga akan dicuri oleh para pelaku penipuan.
4. Pengumuman dari Bank
Para penipu juga seolah membuat pengumuman berasal dari bank. Isi pengumuman itu terkait perubahan tarif transaksi dan transfer yang tidak masuk akal.
Calon korban akan diminta mengisi formulir dalam sebuah link. Namun link itu akan mencuri sejumlah data sensitif milik korban.
5. Penipuan Atas Nama MyTelkomsel
Dengan mencatut nama produk dari sebuah perusahaan besar, pelaku sepertinya mencoba untuk lebih meyakinkan calon korban. Modusnya masih sama dengan sebelumnya, pengguna WhatsApp akan dikirimkan file apk dan diminta untuk men-download.
File itu juga akan meminta izin akses pada sejumlah aplikasi, termasuk foto, video, SMS, dan akses akun layanan perbankan digital atau fintech.
6. Undangan VCS
Bentuk penipuan lain yaitu melakukan video call sex (VCS) lalu memeras korbannya. Menurut pakar keamanan siber Alfons Tanujaya, modus tersebut memanfaatkan ketidaktahuan seseorang soal teknologi.
“Kalau ragu dan diperas, hubungi teman yang mengerti dan minta bantuannya untuk menghadapi ancaman-ancaman yang tidak kita mengerti, jangan main mengikuti ancaman saja,” imbuh Alfons.
7. Pakai QR
Tak kehabisan akal, para pelaku juga berusaha mendapatkan informasi pribadi korban dengan kombinasi kode QR dan modus phishing. Kode QR akan membawa ke situs tertentu yang dapat melacak daftar aplikasi hingga alamat korban.
Para korban juga akan diarahkan ke situs web palsu. Pelaku akan membuat situs sulit deteksi sebelum web dibuka
(ori)