PBNU Terima Aspirasi PCINU Sedunia soal Konsesi Tambang
Tim langit 7
Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:00 WIB
ilustrasi
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membuka ruang diskusi dan musyawarah terkait aspirasi sejumlah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dari seluruh dunia mengenai konsesi tambang, Jumat (14/6/2024).
PBNU menyediakan ruang diskusi agar tidak ada kesalahpahaman terkait kebijakan yang diambil PBNU mengenai penerimaan konsesi tambang yang berasal dari kebijakan afirmatif pemerintah untuk ormas keagamaan.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf hadir secara daring untuk menyampaikan pidato kunci. Dalam kegiatan yang diprakarsai Badan Pengembangan Jaringan Internasional (BPJI) PBNU ini, Gus Yahya menekankan alasan mendasar penerimaan konsesi tambang ada pada pengelolaannya.
Baca juga:NU dan Muhammadiyah Angkat Bicara Konsesi Tambang untuk Ormas Keagamaan
Menurut Gus Yahya, cara lama dengan penggalangan donasi dan koin NU tidak bisa dijadikan sebagai kekuatan materi untuk strategi jangka panjang. Sebab, kebutuhan operasional organisasi yang cukup besar.
“Di samping strategi lama tidak bisa diterapkan di semua daerah, juga uang yang didapatkan dari warga harus dikembalikan kepada warga, baik melalui zakat atau infak dan tidak boleh digunakan untuk kegiatan organisasi,” ungkap Gus Yahya dikutip dari NU Online.
Menurutnya, proyek tambang juga bermanfaat untuk mengantisipasi langkah Bank Dunia dan perbankan besar dunia yang menolak memberikan pinjaman bagi proyek yang terkait energi fosil dan menekan negara-negara miskin untuk pengadaan energi terbarukan.
PBNU menyediakan ruang diskusi agar tidak ada kesalahpahaman terkait kebijakan yang diambil PBNU mengenai penerimaan konsesi tambang yang berasal dari kebijakan afirmatif pemerintah untuk ormas keagamaan.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf hadir secara daring untuk menyampaikan pidato kunci. Dalam kegiatan yang diprakarsai Badan Pengembangan Jaringan Internasional (BPJI) PBNU ini, Gus Yahya menekankan alasan mendasar penerimaan konsesi tambang ada pada pengelolaannya.
Baca juga:NU dan Muhammadiyah Angkat Bicara Konsesi Tambang untuk Ormas Keagamaan
Menurut Gus Yahya, cara lama dengan penggalangan donasi dan koin NU tidak bisa dijadikan sebagai kekuatan materi untuk strategi jangka panjang. Sebab, kebutuhan operasional organisasi yang cukup besar.
“Di samping strategi lama tidak bisa diterapkan di semua daerah, juga uang yang didapatkan dari warga harus dikembalikan kepada warga, baik melalui zakat atau infak dan tidak boleh digunakan untuk kegiatan organisasi,” ungkap Gus Yahya dikutip dari NU Online.
Menurutnya, proyek tambang juga bermanfaat untuk mengantisipasi langkah Bank Dunia dan perbankan besar dunia yang menolak memberikan pinjaman bagi proyek yang terkait energi fosil dan menekan negara-negara miskin untuk pengadaan energi terbarukan.