home edukasi & pesantren

Semua Nabi Beragama Islam, Termasuk Nabi Isa: Begini Penjelasannya

Sabtu, 21 Desember 2024 - 04:40 WIB
Semua Nabi Beragama Islam, Termasuk Nabi Isa: Begini Penjelasannya
LANGIT7.ID-Jakarta; Cendekiawan Muslim Prof Dr Nurcholish Madjid, MA (17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005) atau populer dipanggil Cak Nur mengatakan al-Qur'an menegaskan bahwa semua agama para Nabi dan Rasul, termasuk Nabi Isa as adalah agama Islam.

Cak Nur menjelaskan ada indikasi bahwa Islam adalah inisial seseorang masuk ke dalam lingkaran ajaran Ilahi. Sebuah Ayat Suci melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah beriman tapi Nabi diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru ber-Islam, sebab iman belum masuk ke dalam hati mereka (lihat, QS al-Hujarat 49 :14).

Jadi, kata Cak Nur dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah", iman lebih mendalam daripada Islam, sebab dalam konteks firman itu, kaum Arab Badui tersebut barulah tunduk kepada Nabi secara lahiriah, dan itulah makna kebahasaan perkataan "Islam", yaitu "tunduk" atau "menyerah."

Ibnu Taimiyah dalam kitab "Al-Iman" menjelaskan bahwa agama memang terdiri dari tiga unsur: Islam, iman dan ihsan, yang dalam ketiga unsur itu terselip makna kejenjangan: orang mulai dengan Islam, berkembang ke arah iman, dan memuncak dalam ihsan.

Ibnu Taimiyah menghubungkan pengertian ini dengan firman Allah, "Kemudian Kami (Allah) wariskan Kitab Suci pada kalangan para hamba Kami yang Kami pilih, maka dari mereka ada yang (masih) berbuat zalim, dari mereka ada yang tingkat pertengahan (muqtashid), dan dari mereka ada yang bergegas dengan berbagai kebijakan dengan izin Allah" ( QS Fathir 35 :32).

Menurut Ibnu Taimiyah, orang yang menerima warisan Kitab Suci (yakni, mempercayai dengan berpegang pada ajaran-ajarannya) namun masih juga berbuat zalim adalah orang yang baru ber-Islam, menjadi seorang Muslim, suatu tingkat permulaan pelibatan dari dalam kebenaran.

Ia bisa berkembang menjadi seorang yang beriman, menjadi seorang mukmin, untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat menengah (muqtashid), yaitu orang yang telah terbebas dari perbuatan zalim, namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya