Kisah Sahabat Abu Bakar dan Gelar “al-Shiddiq” yang Disandangnya
Tim langit 7
Ahad, 29 Desember 2024 - 09:15 WIB
Kisah Sahabat Abu Bakar dan gelar Al Shiddiq yang disematkannya.Foto/ilustrasi
Abu Bakar adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang menyandang gelar al-Shiddiq. Gelar tersebut disematkannya mempunyai arti benar atau jujur. Bagaimana gelar tersebut melekat pada Abu Bakar?
Pada suatu malam, Rasulullah Muhammad Saw menjalani perjalanan yang menakjubkan. Ia menjadi seorang musafir yang melampaui batas akal manusia dan menantang logika duniawi.
Dari Mekah, beliau diangkat ke Yerusalem dalam semalam. Bagi seorang musafir pada abad ketujuh, perjalanan ini biasa memakan waktu sebulan.
Keesokan paginya, ketika orang-orang kafir Mekah mendengar kabar tentang perjalanan ini, mereka merayakannya dengan harapan bahwa akhirnya mereka dapat membuktikan bahwa Muhammad adalah seorang gila. Mereka berkumpul, menunggu dengan penuh kegembiraan. Begitu mereka mendengar kisah Rasulullah Saw yang mereka anggap “tak masuk akal”, mereka pun tertawa terbahak-bahak, mengejeknya tanpa belas kasihan.
Baca juga: Kisah Khalifah Ali Dikalahkan di Pengadilan dalam Kasus Sengketa Baju Perang
Namun, meski diserbu dengan cemoohan dan ketidakpercayaan, Rasulullah Saw tetap tenang. Ia berjalan menuju Ka’bah, tempat yang begitu ia cintai, dan di sana ia memuji Allah Sang Pemilik Alam Raya ini. Dalam keheningan yang mendalam, beliau berdoa kepada Allah untuk ditunjukkan kembali gambaran Yerusalem.
Dan begitu beliau mulai mendeskripsikan kota suci itu, tanpa ragu, dengan begitu rinci dan jelas, seolah-olah ia sedang berjalan melalui setiap sudut kota tersebut pada saat itu juga. Orang-orang yang hadir terdiam, terkejut dengan ketepatan deskripsinya.
Pada suatu malam, Rasulullah Muhammad Saw menjalani perjalanan yang menakjubkan. Ia menjadi seorang musafir yang melampaui batas akal manusia dan menantang logika duniawi.
Dari Mekah, beliau diangkat ke Yerusalem dalam semalam. Bagi seorang musafir pada abad ketujuh, perjalanan ini biasa memakan waktu sebulan.
Keesokan paginya, ketika orang-orang kafir Mekah mendengar kabar tentang perjalanan ini, mereka merayakannya dengan harapan bahwa akhirnya mereka dapat membuktikan bahwa Muhammad adalah seorang gila. Mereka berkumpul, menunggu dengan penuh kegembiraan. Begitu mereka mendengar kisah Rasulullah Saw yang mereka anggap “tak masuk akal”, mereka pun tertawa terbahak-bahak, mengejeknya tanpa belas kasihan.
Baca juga: Kisah Khalifah Ali Dikalahkan di Pengadilan dalam Kasus Sengketa Baju Perang
Namun, meski diserbu dengan cemoohan dan ketidakpercayaan, Rasulullah Saw tetap tenang. Ia berjalan menuju Ka’bah, tempat yang begitu ia cintai, dan di sana ia memuji Allah Sang Pemilik Alam Raya ini. Dalam keheningan yang mendalam, beliau berdoa kepada Allah untuk ditunjukkan kembali gambaran Yerusalem.
Dan begitu beliau mulai mendeskripsikan kota suci itu, tanpa ragu, dengan begitu rinci dan jelas, seolah-olah ia sedang berjalan melalui setiap sudut kota tersebut pada saat itu juga. Orang-orang yang hadir terdiam, terkejut dengan ketepatan deskripsinya.