Kisah Penjual Sarang Walet, Sukses Hingga Pasar Global
Mahmuda attar hussein
Senin, 12 Juli 2021 - 12:28 WIB
Ilustrasi penjualan sarang walet menembus pasar global. Foto: Langit7/Istock
Lalu Ading Buntaran, namanya tidak begitu menggema di Nusantara. Tapi di Nusa Tenggara Barat (NTB), nama Lalu Ading ibarat pahlawan daerah yang merubah perekonomian di wilayah Lombok Tengah khususnya.
Mulanya, Ading hanya dikenal sebagai seorang pemuda yang aktif menyuarakan pembelaannya terhadap masyarakat kecil yang tertindas. Bermodalkan pengalaman sebagai aktivis ini, Ading terpikir untuk mengubah kampungnya di Desa Kateng, Lombok Tengah sebagai ‘Kampung Walet Lombok’.
Kampung walet ini merupakan kampung yang komoditinya adalah sarang walet. Perjuangannya di mulai pada 2008 lalu, biasa turun ke jalan saat menjadi aktivis, Ading juga memulai menjual sarang walet dengan usahanya sendiri menyambangi negara-negara tetangga.
Ia ditemani oleh penerjemah kala itu saat beranjak ke luar negeri. Tidak mudah upayanya menjajakan dagangannya ini, ia melangkahkan kakinya hingga sampai di Malaysia, Singapura dan Cina.
Ading berkisah seperti dikutip dari paragraf.co.id, dulu ia menjual sarang waletnya dengan jumlah satu sampai lima kilogram yang ia bawa sendiri ke Malaysia dan menjualnya di sana. Bahkan kakinya juga menapak hingga Afghanistan dan Palestina.
“Dulu sempat ada satu sampai lima kilo saya bawa sendiri ke Malaysia dan jual di sana. Malah sempat juga sampai ke Afghanistan,” tuturnya.
Tidak ada yang sia-sia, usaha kerasnya ke luar negeri membuatnya kian dikenal oleh pelanggannya di sana. Hingga perjalanan waktunya yang lama, kini Ading tidak lagi menawarkan sarang waletnya, melainkan pasar ekspor mulai mencarinya.
Mulanya, Ading hanya dikenal sebagai seorang pemuda yang aktif menyuarakan pembelaannya terhadap masyarakat kecil yang tertindas. Bermodalkan pengalaman sebagai aktivis ini, Ading terpikir untuk mengubah kampungnya di Desa Kateng, Lombok Tengah sebagai ‘Kampung Walet Lombok’.
Kampung walet ini merupakan kampung yang komoditinya adalah sarang walet. Perjuangannya di mulai pada 2008 lalu, biasa turun ke jalan saat menjadi aktivis, Ading juga memulai menjual sarang walet dengan usahanya sendiri menyambangi negara-negara tetangga.
Ia ditemani oleh penerjemah kala itu saat beranjak ke luar negeri. Tidak mudah upayanya menjajakan dagangannya ini, ia melangkahkan kakinya hingga sampai di Malaysia, Singapura dan Cina.
Ading berkisah seperti dikutip dari paragraf.co.id, dulu ia menjual sarang waletnya dengan jumlah satu sampai lima kilogram yang ia bawa sendiri ke Malaysia dan menjualnya di sana. Bahkan kakinya juga menapak hingga Afghanistan dan Palestina.
“Dulu sempat ada satu sampai lima kilo saya bawa sendiri ke Malaysia dan jual di sana. Malah sempat juga sampai ke Afghanistan,” tuturnya.
Tidak ada yang sia-sia, usaha kerasnya ke luar negeri membuatnya kian dikenal oleh pelanggannya di sana. Hingga perjalanan waktunya yang lama, kini Ading tidak lagi menawarkan sarang waletnya, melainkan pasar ekspor mulai mencarinya.