home edukasi & pesantren

Sejarah Perkembangan Tafsir dan 6 Corak Penafsiran

Jum'at, 31 Januari 2025 - 17:19 WIB
Al-Quran memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak terbatas. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada saat Al-Quran diturunkan, Rasulullah SAW, yang berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya tentang arti dan kandungan Al-Quran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau samar artinya.

Keadaan ini berlangsung sampai dengan wafatnya Rasul SAW, walaupun harus diakui bahwa penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui akibat tidak sampainya riwayat-riwayat tentangnya atau karena memang Rasul SAW sendiri tidak menjelaskan semua kandungan Al-Quran.

Kalau pada masa Rasul SAW para sahabat menanyakan persoalan-persoalan yang tidak jelas kepada beliau, maka setelah wafatnya, mereka terpaksa melakukan ijtihad, khususnya mereka yang mempunyai kemampuan semacam Ali bin Abi Thalib, Ibnu 'Abbas, Ubay bin Ka'ab, dan Ibnu Mas'ud.

Sementara sahabat ada pula yang menanyakan beberapa masalah, khususnya sejarah nabi-nabi atau kisah-kisah yang tercantum dalam Al-Quran kepada tokoh-tokoh Ahlul-Kitab yang telah memeluk agama Islam, seperti 'Abdullah bin Salam, Ka'ab Al-Ahbar, dan lain-lain.

"Inilah yang merupakan benih lahirnya Israiliyat," ujar Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" (Mizan, 1996).

Baca juga: Perkembangan Tafsir: Pada Mulanya Abu Bakar Ash-Shiddiq Saja Tidak Berani Menafsirkan Al-Qur'an

Di samping itu, para tokoh tafsir dari kalangan sahabat yang disebutkan di atas mempunyai murid-murid dari para tabi'in, khususnya di kota-kota tempat mereka tinggal. Sehingga lahirlah tokoh-tokoh tafsir baru dari kalangan tabi'in di kota-kota tersebut, seperti:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya