Makna Intrinsik Takbiratul Ihram dan Doa Iftitah dalam Salat
Miftah yusufpati
Jum'at, 07 Februari 2025 - 04:45 WIB
Salat disyariatkan agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah.Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Cendekiawan muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid (1939-2005) atau populer dipanggil Cak Nur mengatakan berdasarkan berbagai keterangan dalam Kitab Suci dan Hadis Nabi, dapatlah dikatakan bahwa salat adalah kewajiban peribadatan (formal) yang paling penting dalam sistem keagamaan Islam.
"Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita menegakkan salat dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena salatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan," tulis Cak Nur dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah".
Sebuah hadis Nabi SAW menegaskan, "Yang pertama kali akan diperhitungkan tentang seorang hamba pada hari Kiamat ialah salat: jika baik, maka baik pulalah seluruh amalnya; dan jika rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya."
Dan sabda beliau lagi, "Pangkal segala perkara ialah al-Islam (sikap pasrah kepada Allah), tiang penyangganya salat, dan puncak tertingginya ialah perjuangan di jalan Allah."
Menurut Cak Nur, karena demikian banyaknya penegasan-penegasan tentang pentingnya salat yang kita dapatkan dalam sumber-sumber agama, tentu sepatutnya kita memahami makna salat itu sebaik mungkin.
Berdasarkan berbagai penegasan itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa agaknya salat merupakan "kapsul" keseluruhan ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan.
Dalam salat itu kita mendapatkan keinsyafan akan tujuan akhir hidup kita, yaitu penghambaan diri ('ibadah) kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan melalui salat itu kita memperoleh pendidikan pengikatan pribadi atau komitmen kepada nilai-nilai hidup yang luhur.
"Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita menegakkan salat dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena salatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan," tulis Cak Nur dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah".
Sebuah hadis Nabi SAW menegaskan, "Yang pertama kali akan diperhitungkan tentang seorang hamba pada hari Kiamat ialah salat: jika baik, maka baik pulalah seluruh amalnya; dan jika rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya."
Dan sabda beliau lagi, "Pangkal segala perkara ialah al-Islam (sikap pasrah kepada Allah), tiang penyangganya salat, dan puncak tertingginya ialah perjuangan di jalan Allah."
Menurut Cak Nur, karena demikian banyaknya penegasan-penegasan tentang pentingnya salat yang kita dapatkan dalam sumber-sumber agama, tentu sepatutnya kita memahami makna salat itu sebaik mungkin.
Berdasarkan berbagai penegasan itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa agaknya salat merupakan "kapsul" keseluruhan ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan.
Dalam salat itu kita mendapatkan keinsyafan akan tujuan akhir hidup kita, yaitu penghambaan diri ('ibadah) kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan melalui salat itu kita memperoleh pendidikan pengikatan pribadi atau komitmen kepada nilai-nilai hidup yang luhur.