home edukasi & pesantren

Makna Intrinsik Bacaan Surat Al-Fatihah dalam Salat

Jum'at, 07 Februari 2025 - 17:33 WIB
Tuhan tidak analog dengan sesuatu apa pun juga. Karena itu Tuhan juga tidak mungkin terjangkau oleh akal manusia yang nisbi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Cendekiawan muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid (1939-2005) atau populer dipanggil Cak Nur mengatakan manusia adalah makhluk yang sekalipun pada dasarnya baik namun juga lemah. Kelemahan ini membuatnya tidak selalu mampu menangkap kebaikan dan kebenaran dalam kaitan nyatanya dengan hidup sehari-hari.

Sering kebenaran itu tak tampak padanya karena terhalang oleh hawa nafsu (hawa al-nafs, kecenderungan diri sendiri) yang subyektif dan egois sebagai akibat dikte dan penguasaan oleh vested interest-nya.

Oleh karena itu dalam usaha mencari dan menemukan kebenaran tersebut mutlak diperlukan ketulusan hati dan keikhlasannya, yaitu sikap batin yang murni, yang sanggup melepaskan diri dari dikte kecenderungan diri sendiri atau hawa nafsu itu.

"Begitulah, maka ketika dalam salat seseorang membaca surat al-Fatihah --yang merupakan bacaan terpenting dalam ibadat itu-- kandungan makna surat itu yang terutama harus dihayati benar-benar ialah permohonan kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim)," tulis Cak Nur dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah"

Permohonan itu, kata Cak Nur, setelah didahului dengan pernyataan bahwa seluruh perbuatan dirinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah (basmalah), diteruskan dengan pengakuan dan panjatan pujian kepada-Nya sebagai pemelihara seluruh alam raya (hamdalah), Yang Maha Pengasih (tanpa pilih kasih di dunia ini -al-Rahman) dan Maha Penyayang (kepada kaum beriman di akhirat kelak -al-Rahim).

Baca juga: Makna Intrinsik Takbiratul Ihram dan Doa Iftitah dalam Salat

Lalu dilanjutkan dengan pengakuan terhadap Allah sebagai Penguasa Hari Pembalasan, di mana setiap orang akan berdiri mutlak sebagai pribadi di hadapan-Nya selaku Maha Hakim, dikukuhkan dengan pernyataan bahwa kita tidak akan menghamba kecuali kepada-Nya saja semurni-murninya, dan juga hanya kepada-Nya saja kita memohon pertolongan karena menyadari bahwa kita sendiri tidak memiliki kemampuan intrinsik untuk menemukan kebenaran.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya