Yahudi dan Nasrani Pada Masa Silam Berpuasa di Bulan Ramadan
Miftah yusufpati
Jum'at, 28 Februari 2025 - 04:45 WIB
Islam mensyariatkan puasa atas dasar ibadah dan bertujuan untuk menjadi hamba yang bertakwa. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID--Puasa merupakan ritus kuno bagi beragam agama jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menyebarkan Islam. Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menerangkan bahwa Umat Nasrani di masa silam telah berpuasa di bulan Ramadan. Bukan hanya itu, umat Yahudi juga berpuasa selama bulan Ramadan.
Lalu, mengapa umat Islam juga diwajibkan berpuasa di Bulan Ramadan, bukan pada bulan lainnya?
Al-Dahlawi dalam kitabnya berjudul "Hujjah Allah al-Balighah" menyebut ada kriteria yang telah terpenuhi oleh Ramadan, sehingga bulan ini dipilih menjadi momen umat Islam berpuasa. Yakni, karena di bulan ini, turun Al-Quran, dasar agama Islam sekaligus mukjizat paling agung.
Hal ini dikuatkan Al-Razi saat menafsir QS al-Baqarah [2 ]: 185. Ayat tersebut, menurutnya, memuat ‘illat (alasan) mengapa perintah puasa jatuh pada bulan Ramadan.
‘Illat itu tak lain karena di bulan Ramadan turun tanda ketuhanan (ayat rububiyyah) yang paling agung, yaitu Al-Qur'an.
Oleh sebab itu, lanjut al-Razi, seorang hamba harus mengabdikan dirinya dengan mengamalkan ritus ibadah sebagai simbol penghambaan kepada Rabbnya (ayat ‘ubudiyyah). Kemudian puasa dipilih sebagai ritus ibadah tersebut.
Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Puasa Ramadan Menurut Muhammadiyah
Lalu, mengapa umat Islam juga diwajibkan berpuasa di Bulan Ramadan, bukan pada bulan lainnya?
Al-Dahlawi dalam kitabnya berjudul "Hujjah Allah al-Balighah" menyebut ada kriteria yang telah terpenuhi oleh Ramadan, sehingga bulan ini dipilih menjadi momen umat Islam berpuasa. Yakni, karena di bulan ini, turun Al-Quran, dasar agama Islam sekaligus mukjizat paling agung.
Hal ini dikuatkan Al-Razi saat menafsir QS al-Baqarah [2 ]: 185. Ayat tersebut, menurutnya, memuat ‘illat (alasan) mengapa perintah puasa jatuh pada bulan Ramadan.
‘Illat itu tak lain karena di bulan Ramadan turun tanda ketuhanan (ayat rububiyyah) yang paling agung, yaitu Al-Qur'an.
Oleh sebab itu, lanjut al-Razi, seorang hamba harus mengabdikan dirinya dengan mengamalkan ritus ibadah sebagai simbol penghambaan kepada Rabbnya (ayat ‘ubudiyyah). Kemudian puasa dipilih sebagai ritus ibadah tersebut.
Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Puasa Ramadan Menurut Muhammadiyah