Usia Baru 29 Tahun, Miliki 11 Karyawan dan Omzet Rp5 Juta per Hari
Arif purniawan
Jum'at, 24 September 2021 - 20:00 WIB
Ilustrasi roti bakar milik Farid Hidayat. Foto: Langit7/Istock
Farid Hidayat, 29, saat ini sudah bisa merasakan hasil jerih payahnya menjalankan usaha roti bakar. Di usianya masih relatif muda, ia memiliki 11 karyawan yang berjualan roti bakar menggunakan gerobak di tepi jalan di wilayah Kota Semarang. Dalam satu hari, setidaknya bisa menghasilkan total pendapatan Rp5 juta.
“Rata-rata, setiap gerobak bisa mendapatkan omzet Rp500-700 ribu per hari jika sepi. Jika ramai, ada yang bisa sampai Rp1 juta,” ungkap Farid, di Channel Youtube Kajepreneur Academy.
Keberhasilan yang didapatnya saat ini tidak diperolehnya secara instan. Ia sudah jatuh bangun merintis usaha. Bahkan, sejak semester 3 ketika kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri (UIN) Semarang, sudah berjualan opak, keripik yang terbuat dari singkong. Meniru usaha rekannya asal Wonosobo.
Baca juga:KJRI New York dan BP2MI Tingkatkan Peluang Ekonomi Pekerja Migran Indonesia
Opak dititipkan ke kucingan. Bahan baku diambil dari rumah, di Wonosobo. Bawa sekarung tiap minggu. Tak lupa, juga izin kepada ibunya. Pada titik tertentu, pernah seminggu sekali pulang. Suatu ketika, singkong yang dibawanya itu kehujanan.
“Bahan baku nemplek, basah kuyup, tidak bisa digunakan. Sedikit kendo. Bingung bagaimana, agar tidak retur. Karena yang tidak laku dari kucingan diretur dan melempem,” cerita Farid.
“Rata-rata, setiap gerobak bisa mendapatkan omzet Rp500-700 ribu per hari jika sepi. Jika ramai, ada yang bisa sampai Rp1 juta,” ungkap Farid, di Channel Youtube Kajepreneur Academy.
Keberhasilan yang didapatnya saat ini tidak diperolehnya secara instan. Ia sudah jatuh bangun merintis usaha. Bahkan, sejak semester 3 ketika kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri (UIN) Semarang, sudah berjualan opak, keripik yang terbuat dari singkong. Meniru usaha rekannya asal Wonosobo.
Baca juga:KJRI New York dan BP2MI Tingkatkan Peluang Ekonomi Pekerja Migran Indonesia
Opak dititipkan ke kucingan. Bahan baku diambil dari rumah, di Wonosobo. Bawa sekarung tiap minggu. Tak lupa, juga izin kepada ibunya. Pada titik tertentu, pernah seminggu sekali pulang. Suatu ketika, singkong yang dibawanya itu kehujanan.
“Bahan baku nemplek, basah kuyup, tidak bisa digunakan. Sedikit kendo. Bingung bagaimana, agar tidak retur. Karena yang tidak laku dari kucingan diretur dan melempem,” cerita Farid.