LANGIT7.ID, Semarang - Farid Hidayat, 29, saat ini sudah bisa merasakan hasil jerih payahnya menjalankan usaha roti bakar. Di usianya masih relatif muda, ia memiliki 11 karyawan yang berjualan roti bakar menggunakan gerobak di tepi jalan di wilayah Kota Semarang. Dalam satu hari, setidaknya bisa menghasilkan total pendapatan Rp5 juta.
“Rata-rata, setiap gerobak bisa mendapatkan omzet Rp500-700 ribu per hari jika sepi. Jika ramai, ada yang bisa sampai Rp1 juta,” ungkap Farid, di Channel Youtube Kajepreneur Academy.
Keberhasilan yang didapatnya saat ini tidak diperolehnya secara instan. Ia sudah jatuh bangun merintis usaha. Bahkan, sejak semester 3 ketika kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri (UIN) Semarang, sudah berjualan opak, keripik yang terbuat dari singkong. Meniru usaha rekannya asal Wonosobo.
Baca juga: KJRI New York dan BP2MI Tingkatkan Peluang Ekonomi Pekerja Migran IndonesiaOpak dititipkan ke kucingan. Bahan baku diambil dari rumah, di Wonosobo. Bawa sekarung tiap minggu. Tak lupa, juga izin kepada ibunya. Pada titik tertentu, pernah seminggu sekali pulang. Suatu ketika, singkong yang dibawanya itu kehujanan.
“Bahan baku nemplek, basah kuyup, tidak bisa digunakan. Sedikit kendo. Bingung bagaimana, agar tidak retur. Karena yang tidak laku dari kucingan diretur dan melempem,” cerita Farid.
Saat semester 4, berganti usaha jualan carica, manisan khas Wonosobo, karena di Semarang belum ada. Tapi itu hanya berjalan selama satu semester. Carica yang rasanya manis itu membuat pembeli cepat bosan. Akhirnya distop. Pada semester 5, ada tawaran outlet di kampus. Namun tidak bisa masak.
Dia akhirnya minta resep kepada ibunya menu nasi megono, mi ongklok dan tempe kemul. Sekaligus kepada ibunya juga minta support bantuan untuk modal. Nasi megono khas Pekalongan dan Wonosobo beda, karena Wonosobo pakai daun riwis, semetara megono Pekalongan menggunakan nangka muda.
Farid mengaku belum memahami manajemen keuangan, SDM dan waktu karena yang penting bisa jualan di bagi dengan kegiatan di luar kampus. Tanpa disadari, ketika liburan akhir semester selama dua bulan, modal akhirnya hilang.
“Ternyata saya sering memakai uang penjualan. Semester VI saya minta modal sama orang tua malu, minta terus kan, sudah gede minta terus, belum pernah kasih. Akhirnya saya memutuska kerja di Alfamart. Ya kuliah , ya kerja, jualan, ya organisasi,” bebernya.
Selama 8 bulan bekerja di Alfamart mulai Februari 2014. Usaha di kantinnya ia percayakan kepada. Rekannya itu hanya diberi makan gratis. Jika ada keuntungan dari menjual mi ongklok, nasi megono dan tempe kemul, hasilnyadibagi dua. Tapi justru sering tombok, kerja sampingan di toko waralaba pun keteran.
Menu makananannya pun kemudian diganti soto, dan penjualan mulai naik penjualannya. Bahkan ia dari Wonosobo membawa salah satu temannya untuk dipekerjakan menjaga outlet. Dengan menerapkan sistem gaji seperti ini, full team kerja, banyak pelanggan yang teropeni dengan baik.
Karena sebelumnya kalau ada kuliah tutup. Di situ mulai kelihatan omzet sekian. Akhirnya ditambah menu ayam. Soto masih tetap bertahan, beberapa kali. Setelah kewalahan menu ayam, soto dihilangkan, diganti ayam kepidak, sama seperti ayam geprek.
Bahkan, sempat juga menyewa ruko di kawasan Bringin. Di pujasera tersebut juga tidak bertahan. Pada akhirnya tutup. Saat masih berjualan ayam kepidak, ia juga jualan roti bakar di Jalan MT Haryono pada 2015.
Saat itu masih magang di perusahaan jasa investasi di kawasan Jalan MT Haryono. Gerobak masih dijaga sendiri. Sehabis magang, pergi ke Sampangan ambil bahan. Gerobak itu dibelinya dari rekannya seharga Rp800 ribu, karena temannya itu butuh uang untuk KKN.
Sial, sejak 2020, ia memutuskan menutup usaha ayam kepidak karena tidak ada perkuliahan dan ruko di Bringin juga hanya bertahan setahun. Akhirnya dia beralih ke usaha roti bakar sekitar 2015. Saat itu masih magang di perusahaan jasa investasi di kawasan Jalan MT Haryono.
Baca juga: Gampang-gampang Susah, Muslim Ini Jual Telur Semut Rangrang Rp1 Juta per KilogramGerobak masih dijaga sendiri. Sehabis magang, pergi ke Sampangan ambil bahan. Gerobak itu dibelinya dari rekannya seharga Rp800 ribu, karena temannya itu butuh uang untuk KKN. Dan waktu itu memiliki modal sekitar Rp200 ribu, buat beli bahan utama.
“2015 sampai sekarang punya 13 gerobak. Sekarang punya karyawan 11, yang 2 karyawan libur sejak PPKM, penjualannya belum maksimal. Saya hentikan, sambil cari karyawan lagi, sambil berjalan lagi semua,” ucapnya.
Ia memiliki filosofi hidup harus punya tujuan. Jika hanya mengumpulkan uang saja, lalu mati tidak ada gunanya. Dan tujuannya adalah ingin membahagiakan orang tuanya. Banyak yang menanyakan kenapa tidak beli rumah, tapi malah beli mobil, karena dia ingin berbakti kepada orangtua.
Lewat kebershasilannya menjalankan usaha, Farid sudah bisa memberangkatkan umroh orang tuanya. Sebenarnya dia ingin berangkat sendiri, tapi merasa belum pantas karena banyak dosa.
“Beli mobil, jika pergi jauh orang tua tiduran di belakang. Selalu bahagiakan orang tua dan jangan lupa berdoa. Modal yang paling utama itu niat, modal uang itu kesekian,” ujarnya.
(zul)