Kisah Imam Syafi'i Meramu Pendapat Fikih Imam Malik dan Imam Abu Hanifah
Miftah yusufpati
Senin, 17 Maret 2025 - 17:40 WIB
Di Mesir Imam Syafii bertemu dengan Imam Laits bin Saad untuk saling bertukar ilmu dan wawasan satu sama lain. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Pada tahun 189 H, Imam Syafi’i kembali ke kampungnya dari Baghdad di Kota Makkah. Beliau membuka kembali majelis ilmu di dalam Masjidilharam untuk mengajar dan berfatwa.
Pada waktu inilah mulai dikenal fikih Imam Syafi’i yang menjadi satu mazhab tersendiri meskipun beliau tetap menaruh rasa hormat yang begitu tinggi kepada gurunya Imam Malik --yang menjadi muassis mazhab Maliki.
Beliau meramu pendapat-pendapat fikih dengan menggabungkan dua metode atau dua madrasah besar kala itu, yaitu madrasah ahli hadis yang dikepalai oleh Imam Malik bin Anas di Hijaz dan madrasah ahli Ro’yu yang tokoh utamanya adalah Imam Abu Hanifah yang dipelajari oleh Imam Syafi’i lewat dua muridnya yang terkenal: Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani.
Imam Syafi’i begitu menghargai para ulama yang berbeda pendapat dengan beliau. Banyak pendapat-pendapat beliau yang dikumpulkan pada fase ini yang kemudian disebut sebagai Qoul Qadimnya Imam Syafi’i.
Di antara murid beliau yang yang terkenal pada fase ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rohawaih. Perjalanan hidup Imam Syafi’i benar-benar sebagian besarnya diisi dengan ilmu baik mencarinya ataupun mengajarkannya.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 195 H Imam Syafi’i kembali melakukan perjalanan ilmiahnya. Kali ke Baghdad untuk yang kedua kalinya.
Baca juga: Kisah Imam Syafii Ditangkap dengan Tuduhan Syiah: Era Kalifah Harun Al-Rasyid
Pada waktu inilah mulai dikenal fikih Imam Syafi’i yang menjadi satu mazhab tersendiri meskipun beliau tetap menaruh rasa hormat yang begitu tinggi kepada gurunya Imam Malik --yang menjadi muassis mazhab Maliki.
Beliau meramu pendapat-pendapat fikih dengan menggabungkan dua metode atau dua madrasah besar kala itu, yaitu madrasah ahli hadis yang dikepalai oleh Imam Malik bin Anas di Hijaz dan madrasah ahli Ro’yu yang tokoh utamanya adalah Imam Abu Hanifah yang dipelajari oleh Imam Syafi’i lewat dua muridnya yang terkenal: Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani.
Imam Syafi’i begitu menghargai para ulama yang berbeda pendapat dengan beliau. Banyak pendapat-pendapat beliau yang dikumpulkan pada fase ini yang kemudian disebut sebagai Qoul Qadimnya Imam Syafi’i.
Di antara murid beliau yang yang terkenal pada fase ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rohawaih. Perjalanan hidup Imam Syafi’i benar-benar sebagian besarnya diisi dengan ilmu baik mencarinya ataupun mengajarkannya.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 195 H Imam Syafi’i kembali melakukan perjalanan ilmiahnya. Kali ke Baghdad untuk yang kedua kalinya.
Baca juga: Kisah Imam Syafii Ditangkap dengan Tuduhan Syiah: Era Kalifah Harun Al-Rasyid