home masjid

Makkah Sebelum Cahaya Itu Turun: Titik Balik Sejarah

Senin, 09 Juni 2025 - 15:55 WIB
Kakbah tempo dulu. Foto/Ilustrasi: MEE
LANGIT7.ID-Di tengah kehidupan padang pasir yang gersang, kota suci itu tumbuh menjadi pusat ziarah, dagang, dan pemujaan. Kakbah dikelilingi berhala, malam-malamnya dihidupi oleh nabidh dan cerita para kafilah. Tapi di antara rerimbun hedonisme, kabar tentang cahaya kenabian mulai berembus pelan.

Malam jatuh perlahan di kota Makkah, saat para lelaki Quraisy menyesap nabidh di sekeliling Kakbah. Mereka duduk melingkar, menyimak kisah dari utara dan selatan, dari Yaman hingga Hira, dari Ghassan hingga pedalaman Hijaz.

Sementara mata batu permata pada patung-patung berhala menatap mereka diam-diam, menjadi saksi atas kehidupan kota yang menyebut dirinya tanah suci, namun ramai oleh perdagangan budak, pesta mabuk, dan hasrat-hasrat duniawi.

Makkah, dalam kurun itu, bukan sekadar pusat agama—dengan Kakbah sebagai episentrum keyakinan politeis—melainkan juga pusat transaksi dan diplomasi.

Kota ini seperti jantung di tubuh Jazirah Arab: berdenyut dari lalu-lalang kafilah, berdegup karena cerita, dan hidup oleh ketakziman yang diberi pada Rumah Suci itu. Semuanya menjadikan kota ini merdeka, secara politik, secara sosial, bahkan secara spiritual. Dalam iklim padang pasir yang keras, kebebasan seperti itu menjadi kenikmatan yang dipertahankan mati-matian.

Baca juga: Pecah Kongsi di Kakbah: Kisah Munculnya Abdul Muthalib di Makkah

Budaya Kebebasan yang Sakral
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya