home masjid

Perang, Dakwah, dan Ketakutan Barat: Mengapa Jihad Menjadi Simbol yang Ambigu

Rabu, 11 Juni 2025 - 16:30 WIB
John Louis Esposito. Foto: Lehigh
LANGIT7.ID-Dalam catatan sejarah kekuatan-kekuatan besar dunia, jarang ada peradaban yang menyebar secepat dan seintens Islam. Dalam tempo kurang dari satu abad setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M, panji Islam telah berkibar dari Andalusia di barat hingga anak benua India di timur. Di antara ketakjuban dunia, pertanyaan klasik terus mengemuka: apakah ekspansi itu buah dari misi spiritual atau ambisi politik?

John L. Esposito, dalam bukunya The Islamic Threat: Myth or Reality? (Mizan, 1992), membedah akar ganda gerak ekspansi Islam. Ia menyebutnya sebagai “ancaman ganda” bagi Kristen awal: secara politik karena kekuatan militer kaum Muslim terus meluas, dan secara keagamaan karena Islam membawa misi keimanan baru yang menantang teologi lama.

Sumber energi utama dari ekspansi itu, tulis Esposito, adalah konsep jihad, sebuah istilah yang kini kerap disempitkan maknanya hanya sebagai “perang suci”. Padahal dalam akar Arab-nya, jihad berasal dari jahada, yang berarti “berjuang” atau “berupaya keras”. Maka jihad tidak melulu soal pedang, tapi juga hati, lidah, dan tangan.

Dalam satu rujukan klasik, Esposito mengutip pendapat faqih atau ahli hukum Islam, bahwa jihad mencakup “tugas yang dapat dilaksanakan dengan hati, dengan lidah, dengan tangan, dan dengan pedang.” Rujukan ini berasal dari karya Patrick J. Bannerman, Islam in Perspective (Routledge, 1988).

Baca juga: Pemerintahan dan Masyarakat Islam Menurut John Louis Esposito

Dengan pengertian itu, jihad menjadi sarana mobilisasi sosial. Ia bukan semata panggilan perang, tapi instrumen perubahan. Ia menginspirasi disiplin moral pribadi, keterlibatan sosial, hingga perlawanan militer dalam membela komunitas Muslim dari serangan luar.

Namun sejarah mencatat, jalan jihad yang ditempuh umat Islam seringkali melewati medan perang. Ini, bagi Esposito, bukanlah penyimpangan, melainkan refleksi dari konteks zamannya. Dalam dunia abad ketujuh, agama dan politik adalah satu entitas yang nyaris tak terpisahkan. Nabi Muhammad bukan hanya pembawa wahyu, tapi juga kepala negara dan panglima militer. Model ini kemudian diikuti oleh kekhalifahan setelahnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya