Komunitas Muslim Uighur Resmikan Masjid Baru di Kanada
Fajar adhitya
Kamis, 30 September 2021 - 23:32 WIB
Gereja Katholik berusia 150 tahun di pinggir Toronto yang direnovasi menjadi bangunan masjid oleh komunitas Muslim Uighur Foto: Morning Express
Komunitas Muslim Uighur yang tinggal Kanada membuka masjid baru di pinggiran Toronto.
Masjid tersebut resmi dibuka di bekas bangunan Gereja Katolik Roma berusia 150 tahun yang telah direnovasi.
Peresmian dilakukan dengan pembacaan Alquran dan pengibaran bulan sabit biru dan putih, serta bendera bintang Turkestan Timur. Bangunan ini disebut mampu menampung hingga 2.000 jamaah.
Asosiasi Turkestan Timur Kanada, yang mengusung nama pilihan orang Uighur untuk menyebut Daerah Otonomi Uighur Xinjiang (XUAR) di China barat laut, menyusun gagasan Pusat Uighur Kanada pada 2008.
Tiga belas tahun berselang mereka membeli gedung gereja itu seharga 482 ribu dolar AS dengan sumbangan dari Jerman dan Australia.
"Bagi Uighur di Kanada, pencapaian ini adalah hasil yang tak bisa diperoleh selain dengan persatuan dan solidaritas” kata Presiden Komunitas tersebut Tuyghun Abduweli, dilansir Radio Free Asia, Kamis (30/9/2021).
Persatuan komunitaslah, ujarnya, yang akhirnya membuat mereka mampu membeli sebuah gereja dan mengubahnya menjadi sebuah masjid.
Masjid tersebut resmi dibuka di bekas bangunan Gereja Katolik Roma berusia 150 tahun yang telah direnovasi.
Peresmian dilakukan dengan pembacaan Alquran dan pengibaran bulan sabit biru dan putih, serta bendera bintang Turkestan Timur. Bangunan ini disebut mampu menampung hingga 2.000 jamaah.
Asosiasi Turkestan Timur Kanada, yang mengusung nama pilihan orang Uighur untuk menyebut Daerah Otonomi Uighur Xinjiang (XUAR) di China barat laut, menyusun gagasan Pusat Uighur Kanada pada 2008.
Tiga belas tahun berselang mereka membeli gedung gereja itu seharga 482 ribu dolar AS dengan sumbangan dari Jerman dan Australia.
"Bagi Uighur di Kanada, pencapaian ini adalah hasil yang tak bisa diperoleh selain dengan persatuan dan solidaritas” kata Presiden Komunitas tersebut Tuyghun Abduweli, dilansir Radio Free Asia, Kamis (30/9/2021).
Persatuan komunitaslah, ujarnya, yang akhirnya membuat mereka mampu membeli sebuah gereja dan mengubahnya menjadi sebuah masjid.